Sabtu, 24 Januari 2015

Hujan dan Matahari

Ribuan hujan seakan enggan pergi. Mereka ingin tinggal. Walau matahari sudah datang menyambut bumi dan memancarkan cahaya. Seperti terusir, rintiknya berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Tetapi, air akan menguap karena panas. Sebab mentari datang dengan sinarnya yang dahsyat. Rintik itu mengaku kalah. Ia pergi dan pasti akan kembali. Entah datang sendiri atau diundang. Diundang, oleh matahari yang lelah memancarkan sinarnya.
Dua musim mengakibatkan hujan dan matahari berbagi waktu. Waktu yang bisa saja berlalu dan terus berjalan. Hujan dan matahari mendapatkan dua posisi yang sama. Hanya saja, akan jarang kalian temukan hujan saat musim kemarau. Tapi kalian dapati matahari bersinar begitu terangnya di musim hujan. Bertaruh tentang keadilan, hujan lah pemenang dari sidang ‘siapa yang paling benar diantara matahari dan hujan’. Tapi atmosfer dan lapisan-lapisan diatasnya tidak mau tahu hasil dari sidang itu. Mereka hanya ingin tahu, proses antara keduanya agar biosfer berjalan seperti biasanya. Semuanya harus tampak seperti biasanya, walau di dalamnya, ribuan kerusakan terjadi.
Hujan dan matahari itu seperti aku dan kamu. Aku yang selalu ingin bertahan dan selalu berusaha bertahan. Tetapi kamu, dengan sekuat kemampuanmu, membuatku tak tinggal. Parahnya, memanggilku begitu saja jika sinarmu lelah. Kita berada dalam satu dimensi yang sama. Dalam waktu yang sama. Kamu selalu bersinar, dari masa ke masa. Kamu idola mereka. Cahaya terangmu bermanfaat bagi semuanya. Sedang aku hanya serpihan belaka. Bahkan, terkadang banyak sekali yang mencaciku, karena kedatanganku yang membawa masalah bagi mereka.
**
Di suatu pagi yang cerah. Dengan pakaian tidurku. Masih segar dengan semerbak aroma teh dan dedaunan basah di taman belakang rumah. Aku melihat sosokmu, membawa sebuah bunga mawar, dengan mata yang menatapku dan berbicara ‘bisa bicara sebentar?’. Senang akan kedatanganmu bukan menjadi kali pertama untukku. Tapi melihat mawar indah itu, menjadi kali pertama untukku.
Ia memanggil namaku dengan penuh semangat. Bak anak taman kanak-kanak menyambut guru mereka. Aku tersenyum kecil dan mempersilahkannya melompati pagar taman. Kamu masih sama. Walau kita terpisah beberapa blok, senyuman dan tawamu tak pernah terpisah dariku.
“Tehnya cuma satu aja?.”, sambutnya yang membuatku sedikit tertawa. Tanpa menggubrisnya, aku berlalu.
Pikiranku tertuju padanya. Tersenyum lebar dan tertawa melihat ulahnya. Sampai terhidagkanlah, teh dengan aroma melati yang hanya khusus untuk orang spesial.
“Pesananmu, Pak.”, candaku. Dia tertawa.
Perlahan dia meneguk tehnya. Wajahnya memerah karena panas yang mengepul diatas teh itu. Wajahnya tampak lucu dari sini. Entahlah bagaimana sekarang keadaan wajahku yang tak beraturan karena menahan tawa. “Thankyou.”, dia tersenyum mengejek. Aku hanya mengangguk. Ku tatap mawarnya dan dia meliriknya juga.
“Oh, ini... Um, sebenarnya sih aku... Ah entahlah. For you.”, sisi ketidak-relaannya menampakkan sesuatu. Seperti berucap, ‘ada peristiwa sebelum ini, mawar ini bukan untukmu, ini untuk orang lain dalam peristiwa sebelumnya’. Wajah tak relamu itu seakan menampakkan sinar, yang membuatku kalah. Walau penasaran, aku tetap menerima mawar itu.
“Kebiasaan kayak gini terus. Dateng-dateng seneng, tiba-tiba berubah. Ujungnya juga, aku nggak ngerti apa-apa.”, ucapku. Mungkin sedikit ketus. Tapi inilah prosedurnya.
“Pointnya...”, dia berucap cukup lama. Selama mungkin untuk menutupi semuanya. Tapi aku lebih cepat darinya.
“Berantem?”, selaku. Momen ini aku sebut, faster girl ever.
Dia hanya mengangguk. Kemudian bibirnya bergerak panjang lebar atas bawah, ya aku tak begitu hafal argumen atau pengakuannya. Dia menjelaskan perasaannya, penyebab pertengkarannya dengan.......kekasihnya dan aku hanya bisa mendengarkan. Saran? Entah. Aku tak begitu paham dengan permasalahan mereka. Sampai tiada saran selain ‘yang sabar ya’. Yang jelas aku membelanya saat itu. Tapi aku selalu berpikir untuk tidak mengetahui sesuatu hanya dari satu sisi saja. Aku membelanya dan dia terlihat lebih baik. Kemudian dia pergi begitu saja.
Dia pergi dan belum kembali. Seiring dengan mawar yang perlahan mulai kering dan lama-lama tinggal tangkai saja. Hari berganti minggu sampai minggu berganti bulan. Aku tak melihatmu, entah melompati pagarku, atau sekedar menyapaku di halaman depan. Kamu seperti sedang memiliki misi ke luar angkasa. Hilang dalam sunyi. Memasuki atmosfer lain yang lebih membuatmu nyaman. Bagimu, atmosfer itu tak perlu dicari. Hanya perlu sedikit bumbu yang mereka sebut sebagai permintaan maaf. Tentunya, untuk dia, kekasihmu. Kekuatan dari sebuah permintaan maaf membuatmu lupa bahwa ketika dia sedang tidak disampingmu, ada aku disana. Berperang batin dan tetap berusaha untuk mendengarkan semua keluh kesahmu. Saat dia berkata ‘Ah, sudahlah’, masih ada aku yang berusaha untuk mengeluarkan pendapat-pendapatku. Padahal aku tahu, tidak ada satupun pendapatku yang sedikit saja membekas untukmu.
Seiring bergantinya hari, tekad bulat untuk mengatakan tidak pada semuanya yang berhubungan denganmu. Aku menjalaninya, seperti biasanya. Walau ada kerusakan di dalamnya. Sama seperti hujan dan matahari, yang bersidang ‘siapa yang paling benar diantara keduanya’, tapi biosfer memaksanya untuk tetap seperti sedia kala, walau ada kerusakan di dalamnya.
Tapi, pada suatu titik tertentu. Aku mengaku kalah pada tekad bulatku, yang selanjutnya berubah menjadi tekad segi tak beraturan. Sama seperti air yang akan menguap karena panas. Hujan pun mengaku kalah dengan matahari.
Kamu kembali. Walau kali ini dalam keadaan abstrak.
**
Aroma tanah kering yang terkena hujan. Aroma yang benar-benar menyejukkan. Tapi belum banyak diantara mereka yang mengenali aroma ini. Padahal, aromanya dapat memberi kekuatan untuk menyembuhkan dan menenangkan. Menyembuhkan beberapa luka, mengeringkan, walaupun tak sempat tertutup rapat. Sedikit tapi begitu penuh makna. Untuk beberapa orang penyuka hujan, sepertiku. Aroma ini membuatku dapat menyentuh peristiwa lampau yang cukup menyenangkan. Terkadang, aroma ini membawaku pada suatu peristiwa yang cukup membekas. Aroma ini mengalami dilema dalam menyikapi mereka yang menyukainya.
Malam ini, rintik—rintik hujan berhasil mengalahkan sinar bulan. Dari jendela ini, aku melihat gumpalan awan cukup besar yang menyapu langit. Indah sekali. Gelap, penuh dengan suara gemuruh dan tentunya cahaya petir. Menggetarkan hati mereka yang sedang bercanda ria di luar sana. Tapi menghibur hati yang sedang sepi. Kolaborasinya membuat suatu pertunjukkan yang cukup menghibur. Mereka bilang kolaborasi ini membahayakan, bagiku, ini sebuah hiburan di malam Sabtu yang cukup sendu.
Lamunanku ini berkualitas. Diam-diam aku memperhatikan benda mati. Berinteraksi dengan mereka. Saat di luar sana, banyak orang yang sedang bercengkrama satu sama lain. Aku tertawa rintih.
Dahulu, aku pernah menjadi mereka yang memiliki dunia di luar sana. Bercengkrama satu sama lain. Melangkah kemana angin membawa. Tetapi, sekarang aku bukan lagi mereka. Tanpa alasan. Aku menemukan aku yang sebenarnya. Banyak orang menyebutnya jati diri, padahal sebenarnya ini mudah. Hanya sesimpel, berusaha mendengarkan hatiku dan melaluinya seperti angin menyapu debu. Sekarang, aku adalah raja sekaligus ratu di dalam hidupku sendiri. Akulah pemimpin diriku yang sebenarnya. Tak ada orang lain yang bisa.
“Dongeng lama yang masih saja hangat”, ucapku dan disusul dengan tawa beratku. Setitik air mata jatuh disela tawa itu.
Dahulu, tiada rasa malu untuk menangis. Sekarang, aku berbeda. Aku berada di dimensi penuh kepalsuan. Semuanya harus terlihat baik-baik saja. Seperti biosfer yang tidak mau tahu akan persidangan hujan dan matahari. Sekuat tenaga, semuanya harus terlihat biasa saja, semuanya harus terlihat bahagia. Tangis, sedih dan apapun itu harus tetap menjadi bahagia. Walaupun, bahagia semu. Aku tersenyum. Tersenyum dalam kesendirian. Yang berarti, aku berhasil membuatnya terlihat biasa saja.
“Aku capek.”, aku mendengar suara itu. Suara yang perlahan mendekat. Cahaya lampu menyorot wajahnya. Aku benar-benar melihat seseorang yang kelelahan disana. Aku bangkit dari singgasanaku dan mendekatinya. Aku memandanginya, dalam dan penuh keikhlasan disana. Mataku seakan berbicara, ‘ada apa sebenarnya?’. Dia menangis. Lelaki tegap yang sejak dulu aku kenal. Dia menangis. Untuk pertama kalinya.
Aku berusaha menenangkan dan mencairkan suasana hatinya. Yang sepertinya sedang berapi-api. Dimensi kepalsuan. Semuanya harus terlihat biasa saja. Sampai suatu kemarahan besar hanya bisa diungkapkan melalui air mata.
“Cerita aja, waktu kamu udah siap cerita. Sama kayak cinta kan?. Love when you ready to love.”, ucapku. Dan berharap beberapa kata-kata itu ampuh padanya. Dia menatapku dengan mata yang seakan bertanya-tanya maksudku. Aku tersenyum. Entah bagaimana senyumku, hancur atau senyum ababil, entahlah.
“Apalagi perumpamaan cinta yang kamu tahu, maksudku selain yang barusan.”, tanyanya. Terasa luruh di sekujur tubuhku, yang menandakan bahwa aku sangat lega sekarang. Sedikit ampuh ternyata, walaupun hanya sementara.
“Cinta itu kayak baju favorit kita. Entah bikin kita kelihatan kurus atau gemuk, kainnya udah lusuh atau udah berubah warna, mau dipake selama kapanpun, kamu tetep suka. Walaupun, orang udah bilang ‘kayak ga ada baju lain aja, pakenya ini-ini mulu’, kamu tetep suka baju itu dan ga peduli omongan orang.”, ucapku. Dia tertawa kecil sekarang. Dimensi kepalsuan lagi, mungkin.
“Sayangnya, kita terus tumbuh, dan baju itu pasti bakal bener-bener udah nggak bisa dipake lagi.”, dia mulai menanggapiku dengan selaannya. Ku rasa ini benar-benar ampuh. Tanpa sandiwara. Dan bukan di dimensi kepalsuan.
“Kalau udah nggak bisa dipake lagi, tandanya udah nggak cocok. Ibaratnya, kamu terus tumbuh, dia diem aja. Udah ngga bisa satu, soalnya udah ngga cocok. Kalau udah nggak bisa dipake lagi, tandanya udah bener-bener kekecilan. Itutuh nanti yang bikin rasa nyaman tiba-tiba hilang. Meskipun ditarik biar molor ya tetep aja, udah beda.”, ucapku. Kali ini senyumku benar-benar tak tertahan. Begitu juga air mata. Sungguh, bukan yang aku harapkan. Lalu, aku tertawa. Sedikit ada paksaan disana. Untuk menutupi apa yang seharusnya menjadi biasa saja.
“Kalau udah kayak gitu, udah jadi keharusan untuk cari baju baru. Yang lebih fresh dan yang pasti cocok. Dan paling penting, nyaman dipake. Dan bikin good looking juga, ding.”, tambahku lagi. Dia menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, seolah menyetujui pernyataanku itu. “Tapi cari baju baru nggak segampang orang bilang. Kamu harus tahu jenis bajunya gimana, kualitas kainnya, adem apa enggak, good looking apa enggak, kelihatan kurus atau gemuk dan yang terakhir cukup apa enggak tuh dompet buat beli baju itu.”, tambahku. Dia tertawa kali ini. Entah angin jenis apa yang merasukiku, tiba-tiba aku merasa sangat lega.
“Kalau maunya bertahan sama baju lama gimana?”, tanyanya dengan tatapan ‘bisa bercermin sebentar?’. Aku tertawa kecil. Disusul dengan tawanya.
“Kalau tetep masih sama baju yang lama, coba bayangin, raksasa pake bajunya kurcaci. Bisa sobek tuh baju. Sama kayak kamu kalau pake baju kekecilan, bisa sobek. Dan akhirnya kamu nggak pake baju. Hasilnya? Bajunya rusak, kamu juga nggak pake baju, karena maunya bertahan sama yang lama.”, jawabku santai. Sejauh ini matanya masih menatapku dengan artian ‘bisa bercermin sebentar?’. Sejauh ini aku merasa, dia adalah orang yang sangat mudah ditebak, hanya melalui matanya, semuanya terpancar.
“Kalau udah tahu bertahan sama yang lama, khususnya yang dipaksain bertahan, bakalan bener-bener bikin rugi. Kenapa masih ada yang stuck di masa lalunya, ya?”, tanyanya. Aku diam. Diam dengan sedikit bumbu terkejut. Tapi, dia tertawa. Untuk menyembunyikan terdiamnya diriku setelah ungkapannya sebelum ini, aku tertawa.
“Ohiya, kamu belum cerita. Udah siap?”, selaku diantara tawanya yang ikhlas dan tawaku yang benar-benar dipaksakan.
“Berantem. Biasa. Salah paham.”, jawabnya. Nada suaranya merendah. Aku merasa bersalah menanyainya hal yang membuatnya berubah derajat, dari dia yang tertawa lalu seperti ini.
“Um....Okay........Aku mau denger, tapi kalau kamu ngerasa itu privasi, nggak masalah kok......Jangan sedih ya.......Sabar.......”, ucapku dengan suara merasa bersalah ala kadarnya. “Love when you ready to love”, tambahku. Wajahnya kembali tenang sekarang. Aku memaki diriku dalam hati. Betapa bodohnya aku menghilangkan sebuah tawa ikhlas demi kepentinganku, rasa penasaranku terhadapnya dan juga rasa mati kutu yang ku alami setelah pernyataannya yang menyudutkanku. Bodoh. Egois.
“Ada hal yang bener-bener bikin aku nyaman banget kalau lagi ngobrol sama kamu. Bahkan nyamannya melebihi nyamanku.........ke dia”, jawabnya. Aku tersentak kaget. Kali ini kaget yang benar-benar kaget.
“Whoaaa, nggak bisa gitu dong. Sekarang, kamu hubungi dia, jelasin kenapa bisa salah paham, minta maaf dan semuanya bakal balik....kayak biasanya lagi”, jawabku, lalu dalam hati aku berucap ‘semuanya bakal balik....kayak biasanya lagi, kecuali aku’. Jujur saja, aku senang ketika dia berucap seperti tadi. Tapi aku juga merasa miris sekali, karena ketika ada yang merasa nyaman denganku, begitu pula denganku, kita tak akan pernah satu.
Dia mengangguk pasti. Lalu menatapku lembut sekali. “Aku pulang dulu, ya.”, ucapnya. Aku membalasnya dengan anggukan riang.
“Kembalilah waktu kamu lagi butuh aku.”, aku tersenyum. Ia membalasnya dengan senyuman bingung, aku tahu dia akan segera bertanya ‘apa maksudmu’ tapi aku bergegas memalingkan tubuh dan langsung repot dengan air mata yang luruh tanpa permisi.
**
Setelah percakapan abstrak itu, kamu tiba-tiba menghilang. Sepertinya kamu memulai perjalanan barumu ke atmosfer itu. Membuka cerita baru, pastinya dengan dia yang bukan aku. Atmosfer itu sepertinya benar-benar bermakna untukmu. Dan untuk kedua kalinya, dengan sadarku, muncul lagi tekad indah itu. Tekad untuk terus berjalan tanpamu. Tekad untuk tak mempedulikanmu. Bulat sudah.
Hari-hariku tampak biasa saja sekarang, tentunya hari-hariku tanpamu. Walaupun hanya tampak saja. Matahari dan hujan juga begitu. Matahari muncul dengan sinarnya dan hujan muncul dengan rintiknya. Seolah biasa, tanpa hambatan. Penduduk langit mulai tenang disana. Walau sebenarnya antara keduanya terjadi perselisihan rahasia.
Hujan juga sudah membulatkan tekadnya untuk ikhlas. Hujan perlahan merelakan keberadaannya. Karena hujan tahu, siapa dia sebenarnya. Dan bagaimana sebenarnya kedudukannya. Ia hanya sebercak noda disela kehidupan manusia. Yang datangnya terkadang mengganggu aktivitas mereka. Sedang matahari?, siapa yang berani bertaruh tiada satu pun yang mengeluh akan keberadaannya, walau terik sekalipun mereka tetap dapat memaklumi. Kemungkinan hanya akan ada beberapa kata saja ‘Aduh, panas sekali hari ini’, terkadang ada juga ‘Ampun, neraka bocor’. Bedakan dengan keberadaan hujan. Terkadang orang memakinya. Mengatakan kata-kata tak sepantasnya. Mengumpat dalam hati. Orang juga merasa dalam posisi bahaya saat hujan datang. Bahkan hujan sering disebut sebagai pembawa sial. Padahal mereka sering sekali bertatap pada hujan dan menceritakan segalanya.
Hujan berposisi sama denganku. Tidak diinginkan. Tetapi masih saja digunakan sebagai wadah untuk dia menceritakan keluh kesahnya. Sedang aku adalah seorang manusia yang dipenuhi dengan berjuta-juta sel dengan perasaan tersendiri. Aku sudah ikhlas. Ikhlas karena memang keberadaanku hanya sebagai wadah untuk cerita-ceritamu saja. Ikhlas karena sekarang saatnya tekad itu tak berubah, tetap bulat begitu saja. Tak menjadi segi-segi aneh yang lain.
Bumi memang terus berputar. Sang waktu juga terus berputar. Siang dan malam masih saja bergantian. Langit yang cerah dan langit penuh bintang masih seimbang. Angin masih sama. Tak ada petir sama sekali. Matahari terus bersinar. Sang hujan pergi sekarang. Meninggalkan semuanya. Karena sekarang keberadaannya sudah harus digantikan oleh matahari. Iya, musim kemarau lagi. Mungkin di lain atmosfer, hujan akan mendapati tempatnya lagi.
Berjuta-juta detik terlewati perlahan. Kamu masih sama, mungkin kali ini kamu benar-benar nyaman disana. Di atmosfermu itu. Atau pesawat yang kamu tumpangi untuk menuju atmosfer itu sedang rusak atau terjadi gangguan. Sehingga kamu harus berlama disana. Banyak sekali kemungkinan ketidakhadiranmu kali ini. Tapi aku sadar, aku harus tetap melaluinya. Aku sadar, kamu memang bukan untukku. Aku sadar, selama ini aku hanya berada diatas lapisan ketidaksadaranku saja. Aku sadar.......bahwa aku hanya sebatas dia, sebelum dia menjadi kekasihmu.
**
Hujan dan matahari tidak akan pernah berhenti. Dalam sebuah siklus, mereka akan saling bertukar posisi sampai Tuhan menghendaki semuanya berhenti. Walaupun saat keadaan saling bertukar itu kebanyakan matahari memperlakukan hujan sebagai hal yang tidak diinginkan, tetapi siklus tetap siklus.
Mungkin sama halnya dengan aku dan kamu. Entah sekarang kita sudah berhenti atau akan berlanjut. Karena kita ada dalam sebuah siklus, dimana kamu dan dia ada disana sedang aku disini meratapi keberadaanku sendiri.
Mungkin semua ini hanya kemungkinan belaka. Tanpa ada kejelasan seperti apa keadaan sebenarnya. Tapi tidak ada yang tidak mungkin selama penulis menjadi Tuhan dalam kisah-kisah yang ia tulis.

Ini tentang hujan dan matahari
Dua insan yang sedang mengitari bumi
Mengarungi derasnya badai
Melewati jutaan mimpi

Hanya tentang hujan dan matahari
Sebagai metafora sebuah mimpi
Bukan aku dan kamu yang sedang mencari
Sebuah tempat untuk disinggahi

Ketika bumi berhenti
Memanggil semua insan dalam bumi
Semuanya berhenti
Hujan dan matahari turut prihatin

Aku dan kamu berhenti mencari,
Berhenti mengarungi,
Berhenti menjelajahi mimpi
Lalu semuanya pergi tanpa permisi