Ribuan hujan seakan enggan pergi. Mereka ingin tinggal.
Walau matahari sudah datang menyambut bumi dan memancarkan cahaya. Seperti
terusir, rintiknya berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Tetapi, air akan
menguap karena panas. Sebab mentari datang dengan sinarnya yang dahsyat. Rintik
itu mengaku kalah. Ia pergi dan pasti akan kembali. Entah datang sendiri atau
diundang. Diundang, oleh matahari yang lelah memancarkan sinarnya.
Dua musim mengakibatkan hujan dan matahari berbagi waktu.
Waktu yang bisa saja berlalu dan terus berjalan. Hujan dan matahari mendapatkan
dua posisi yang sama. Hanya saja, akan jarang kalian temukan hujan saat musim
kemarau. Tapi kalian dapati matahari bersinar begitu terangnya di musim hujan.
Bertaruh tentang keadilan, hujan lah pemenang dari sidang ‘siapa yang paling
benar diantara matahari dan hujan’. Tapi atmosfer dan lapisan-lapisan diatasnya
tidak mau tahu hasil dari sidang itu. Mereka hanya ingin tahu, proses antara
keduanya agar biosfer berjalan seperti biasanya. Semuanya harus tampak seperti
biasanya, walau di dalamnya, ribuan kerusakan terjadi.
Hujan dan matahari itu seperti aku dan kamu. Aku yang
selalu ingin bertahan dan selalu berusaha bertahan. Tetapi kamu, dengan sekuat
kemampuanmu, membuatku tak tinggal. Parahnya, memanggilku begitu saja jika
sinarmu lelah. Kita berada dalam satu dimensi yang sama. Dalam waktu yang sama.
Kamu selalu bersinar, dari masa ke masa. Kamu idola mereka. Cahaya terangmu
bermanfaat bagi semuanya. Sedang aku hanya serpihan belaka. Bahkan, terkadang
banyak sekali yang mencaciku, karena kedatanganku yang membawa masalah bagi
mereka.
**
Di suatu pagi yang cerah. Dengan pakaian tidurku. Masih
segar dengan semerbak aroma teh dan dedaunan basah di taman belakang rumah. Aku
melihat sosokmu, membawa sebuah bunga mawar, dengan mata yang menatapku dan
berbicara ‘bisa bicara sebentar?’. Senang akan kedatanganmu bukan menjadi kali
pertama untukku. Tapi melihat mawar indah itu, menjadi kali pertama untukku.
Ia memanggil namaku dengan penuh semangat. Bak anak taman
kanak-kanak menyambut guru mereka. Aku tersenyum kecil dan mempersilahkannya
melompati pagar taman. Kamu masih sama. Walau kita terpisah beberapa blok,
senyuman dan tawamu tak pernah terpisah dariku.
“Tehnya cuma satu aja?.”, sambutnya yang membuatku
sedikit tertawa. Tanpa menggubrisnya, aku berlalu.
Pikiranku tertuju padanya. Tersenyum lebar dan tertawa
melihat ulahnya. Sampai terhidagkanlah, teh dengan aroma melati yang hanya
khusus untuk orang spesial.
“Pesananmu, Pak.”, candaku. Dia tertawa.
Perlahan dia meneguk tehnya. Wajahnya memerah karena
panas yang mengepul diatas teh itu. Wajahnya tampak lucu dari sini. Entahlah
bagaimana sekarang keadaan wajahku yang tak beraturan karena menahan tawa. “Thankyou.”, dia tersenyum mengejek. Aku
hanya mengangguk. Ku tatap mawarnya dan dia meliriknya juga.
“Oh, ini... Um, sebenarnya sih aku... Ah entahlah. For you.”, sisi ketidak-relaannya
menampakkan sesuatu. Seperti berucap, ‘ada peristiwa sebelum ini, mawar ini
bukan untukmu, ini untuk orang lain dalam peristiwa sebelumnya’. Wajah tak
relamu itu seakan menampakkan sinar, yang membuatku kalah. Walau penasaran, aku
tetap menerima mawar itu.
“Kebiasaan kayak gini terus. Dateng-dateng seneng,
tiba-tiba berubah. Ujungnya juga, aku nggak ngerti apa-apa.”, ucapku. Mungkin
sedikit ketus. Tapi inilah prosedurnya.
“Pointnya...”, dia berucap cukup lama. Selama mungkin
untuk menutupi semuanya. Tapi aku lebih cepat darinya.
“Berantem?”, selaku. Momen ini aku sebut, faster girl ever.
Dia hanya mengangguk. Kemudian bibirnya bergerak panjang
lebar atas bawah, ya aku tak begitu hafal argumen atau pengakuannya. Dia
menjelaskan perasaannya, penyebab pertengkarannya dengan.......kekasihnya dan
aku hanya bisa mendengarkan. Saran? Entah. Aku tak begitu paham dengan
permasalahan mereka. Sampai tiada saran selain ‘yang sabar ya’. Yang jelas aku
membelanya saat itu. Tapi aku selalu berpikir untuk tidak mengetahui sesuatu
hanya dari satu sisi saja. Aku membelanya dan dia terlihat lebih baik. Kemudian
dia pergi begitu saja.
Dia pergi dan belum kembali. Seiring dengan mawar yang
perlahan mulai kering dan lama-lama tinggal tangkai saja. Hari berganti minggu sampai
minggu berganti bulan. Aku tak melihatmu, entah melompati pagarku, atau sekedar
menyapaku di halaman depan. Kamu seperti sedang memiliki misi ke luar angkasa.
Hilang dalam sunyi. Memasuki atmosfer lain yang lebih membuatmu nyaman. Bagimu,
atmosfer itu tak perlu dicari. Hanya perlu sedikit bumbu yang mereka sebut
sebagai permintaan maaf. Tentunya, untuk dia, kekasihmu. Kekuatan dari sebuah
permintaan maaf membuatmu lupa bahwa ketika dia sedang tidak disampingmu, ada
aku disana. Berperang batin dan tetap berusaha untuk mendengarkan semua keluh
kesahmu. Saat dia berkata ‘Ah, sudahlah’, masih ada aku yang berusaha untuk
mengeluarkan pendapat-pendapatku. Padahal aku tahu, tidak ada satupun
pendapatku yang sedikit saja membekas untukmu.
Seiring bergantinya hari, tekad bulat untuk mengatakan
tidak pada semuanya yang berhubungan denganmu. Aku menjalaninya, seperti biasanya.
Walau ada kerusakan di dalamnya. Sama seperti hujan dan matahari, yang
bersidang ‘siapa yang paling benar diantara keduanya’, tapi biosfer memaksanya
untuk tetap seperti sedia kala, walau ada kerusakan di dalamnya.
Tapi, pada suatu titik tertentu. Aku mengaku kalah pada
tekad bulatku, yang selanjutnya berubah menjadi tekad segi tak beraturan. Sama
seperti air yang akan menguap karena panas. Hujan pun mengaku kalah dengan
matahari.
Kamu kembali. Walau kali ini dalam keadaan abstrak.
**
Aroma tanah kering yang terkena hujan. Aroma yang
benar-benar menyejukkan. Tapi belum banyak diantara mereka yang mengenali aroma
ini. Padahal, aromanya dapat memberi kekuatan untuk menyembuhkan dan
menenangkan. Menyembuhkan beberapa luka, mengeringkan, walaupun tak sempat
tertutup rapat. Sedikit tapi begitu penuh makna. Untuk beberapa orang penyuka
hujan, sepertiku. Aroma ini membuatku dapat menyentuh peristiwa lampau yang
cukup menyenangkan. Terkadang, aroma ini membawaku pada suatu peristiwa yang
cukup membekas. Aroma ini mengalami dilema dalam menyikapi mereka yang
menyukainya.
Malam ini, rintik—rintik hujan berhasil mengalahkan sinar
bulan. Dari jendela ini, aku melihat gumpalan awan cukup besar yang menyapu
langit. Indah sekali. Gelap, penuh dengan suara gemuruh dan tentunya cahaya
petir. Menggetarkan hati mereka yang sedang bercanda ria di luar sana. Tapi
menghibur hati yang sedang sepi. Kolaborasinya membuat suatu pertunjukkan yang
cukup menghibur. Mereka bilang kolaborasi ini membahayakan, bagiku, ini sebuah
hiburan di malam Sabtu yang cukup sendu.
Lamunanku ini berkualitas. Diam-diam aku memperhatikan
benda mati. Berinteraksi dengan mereka. Saat di luar sana, banyak orang yang
sedang bercengkrama satu sama lain. Aku tertawa rintih.
Dahulu, aku pernah menjadi mereka yang memiliki dunia di
luar sana. Bercengkrama satu sama lain. Melangkah kemana angin membawa. Tetapi,
sekarang aku bukan lagi mereka. Tanpa alasan. Aku menemukan aku yang
sebenarnya. Banyak orang menyebutnya jati diri, padahal sebenarnya ini mudah. Hanya
sesimpel, berusaha mendengarkan hatiku dan melaluinya seperti angin menyapu
debu. Sekarang, aku adalah raja sekaligus ratu di dalam hidupku sendiri. Akulah
pemimpin diriku yang sebenarnya. Tak ada orang lain yang bisa.
“Dongeng lama yang masih saja hangat”, ucapku dan disusul
dengan tawa beratku. Setitik air mata jatuh disela tawa itu.
Dahulu, tiada rasa malu untuk menangis. Sekarang, aku
berbeda. Aku berada di dimensi penuh kepalsuan. Semuanya harus terlihat
baik-baik saja. Seperti biosfer yang tidak mau tahu akan persidangan hujan dan
matahari. Sekuat tenaga, semuanya harus terlihat biasa saja, semuanya harus
terlihat bahagia. Tangis, sedih dan apapun itu harus tetap menjadi bahagia.
Walaupun, bahagia semu. Aku tersenyum. Tersenyum dalam kesendirian. Yang
berarti, aku berhasil membuatnya terlihat biasa saja.
“Aku capek.”, aku mendengar suara itu. Suara yang
perlahan mendekat. Cahaya lampu menyorot wajahnya. Aku benar-benar melihat
seseorang yang kelelahan disana. Aku bangkit dari singgasanaku dan
mendekatinya. Aku memandanginya, dalam dan penuh keikhlasan disana. Mataku
seakan berbicara, ‘ada apa sebenarnya?’. Dia menangis. Lelaki tegap yang sejak
dulu aku kenal. Dia menangis. Untuk pertama kalinya.
Aku berusaha menenangkan dan mencairkan suasana hatinya.
Yang sepertinya sedang berapi-api. Dimensi kepalsuan. Semuanya harus terlihat
biasa saja. Sampai suatu kemarahan besar hanya bisa diungkapkan melalui air
mata.
“Cerita aja, waktu kamu udah siap cerita. Sama kayak
cinta kan?. Love when you ready to love.”,
ucapku. Dan berharap beberapa kata-kata itu ampuh padanya. Dia menatapku dengan
mata yang seakan bertanya-tanya maksudku. Aku tersenyum. Entah bagaimana
senyumku, hancur atau senyum ababil, entahlah.
“Apalagi perumpamaan cinta yang kamu tahu, maksudku
selain yang barusan.”, tanyanya. Terasa luruh di sekujur tubuhku, yang
menandakan bahwa aku sangat lega sekarang. Sedikit ampuh ternyata, walaupun
hanya sementara.
“Cinta itu kayak baju favorit kita. Entah bikin kita
kelihatan kurus atau gemuk, kainnya udah lusuh atau udah berubah warna, mau
dipake selama kapanpun, kamu tetep suka. Walaupun, orang udah bilang ‘kayak ga
ada baju lain aja, pakenya ini-ini mulu’, kamu tetep suka baju itu dan ga
peduli omongan orang.”, ucapku. Dia tertawa kecil sekarang. Dimensi kepalsuan
lagi, mungkin.
“Sayangnya, kita terus tumbuh, dan baju itu pasti bakal
bener-bener udah nggak bisa dipake lagi.”, dia mulai menanggapiku dengan
selaannya. Ku rasa ini benar-benar ampuh. Tanpa sandiwara. Dan bukan di dimensi
kepalsuan.
“Kalau udah nggak bisa dipake lagi, tandanya udah nggak
cocok. Ibaratnya, kamu terus tumbuh, dia diem aja. Udah ngga bisa satu, soalnya
udah ngga cocok. Kalau udah nggak bisa dipake lagi, tandanya udah bener-bener
kekecilan. Itutuh nanti yang bikin rasa nyaman tiba-tiba hilang. Meskipun
ditarik biar molor ya tetep aja, udah beda.”, ucapku. Kali ini senyumku
benar-benar tak tertahan. Begitu juga air mata. Sungguh, bukan yang aku
harapkan. Lalu, aku tertawa. Sedikit ada paksaan disana. Untuk menutupi apa
yang seharusnya menjadi biasa saja.
“Kalau udah kayak gitu, udah jadi keharusan untuk cari
baju baru. Yang lebih fresh dan yang pasti cocok. Dan paling penting, nyaman
dipake. Dan bikin good looking juga, ding.”, tambahku lagi. Dia menggerakkan
kepalanya ke atas dan ke bawah, seolah menyetujui pernyataanku itu. “Tapi cari
baju baru nggak segampang orang bilang. Kamu harus tahu jenis bajunya gimana,
kualitas kainnya, adem apa enggak, good looking apa enggak, kelihatan kurus
atau gemuk dan yang terakhir cukup apa enggak tuh dompet buat beli baju itu.”,
tambahku. Dia tertawa kali ini. Entah angin jenis apa yang merasukiku,
tiba-tiba aku merasa sangat lega.
“Kalau maunya bertahan sama baju lama gimana?”, tanyanya
dengan tatapan ‘bisa bercermin sebentar?’. Aku tertawa kecil. Disusul dengan
tawanya.
“Kalau tetep masih sama baju yang lama, coba bayangin,
raksasa pake bajunya kurcaci. Bisa sobek tuh baju. Sama kayak kamu kalau pake
baju kekecilan, bisa sobek. Dan akhirnya kamu nggak pake baju. Hasilnya?
Bajunya rusak, kamu juga nggak pake baju, karena maunya bertahan sama yang
lama.”, jawabku santai. Sejauh ini matanya masih menatapku dengan artian ‘bisa
bercermin sebentar?’. Sejauh ini aku merasa, dia adalah orang yang sangat mudah
ditebak, hanya melalui matanya, semuanya terpancar.
“Kalau udah tahu bertahan sama yang lama, khususnya yang
dipaksain bertahan, bakalan bener-bener bikin rugi. Kenapa masih ada yang stuck di masa lalunya, ya?”, tanyanya.
Aku diam. Diam dengan sedikit bumbu terkejut. Tapi, dia tertawa. Untuk menyembunyikan
terdiamnya diriku setelah ungkapannya sebelum ini, aku tertawa.
“Ohiya, kamu belum cerita. Udah siap?”, selaku diantara
tawanya yang ikhlas dan tawaku yang benar-benar dipaksakan.
“Berantem. Biasa. Salah paham.”, jawabnya. Nada suaranya
merendah. Aku merasa bersalah menanyainya hal yang membuatnya berubah derajat,
dari dia yang tertawa lalu seperti ini.
“Um....Okay........Aku mau denger, tapi kalau kamu
ngerasa itu privasi, nggak masalah kok......Jangan sedih
ya.......Sabar.......”, ucapku dengan suara merasa bersalah ala kadarnya. “Love when you ready to love”, tambahku.
Wajahnya kembali tenang sekarang. Aku memaki diriku dalam hati. Betapa bodohnya
aku menghilangkan sebuah tawa ikhlas demi kepentinganku, rasa penasaranku
terhadapnya dan juga rasa mati kutu yang ku alami setelah pernyataannya yang
menyudutkanku. Bodoh. Egois.
“Ada hal yang bener-bener bikin aku nyaman banget kalau
lagi ngobrol sama kamu. Bahkan nyamannya melebihi nyamanku.........ke dia”,
jawabnya. Aku tersentak kaget. Kali ini kaget yang benar-benar kaget.
“Whoaaa, nggak bisa gitu dong. Sekarang, kamu hubungi
dia, jelasin kenapa bisa salah paham, minta maaf dan semuanya bakal
balik....kayak biasanya lagi”, jawabku, lalu dalam hati aku berucap ‘semuanya
bakal balik....kayak biasanya lagi, kecuali aku’. Jujur saja, aku senang ketika
dia berucap seperti tadi. Tapi aku juga merasa miris sekali, karena ketika ada
yang merasa nyaman denganku, begitu pula denganku, kita tak akan pernah satu.
Dia mengangguk pasti. Lalu menatapku lembut sekali. “Aku
pulang dulu, ya.”, ucapnya. Aku membalasnya dengan anggukan riang.
“Kembalilah waktu kamu lagi butuh aku.”, aku tersenyum.
Ia membalasnya dengan senyuman bingung, aku tahu dia akan segera bertanya ‘apa
maksudmu’ tapi aku bergegas memalingkan tubuh dan langsung repot dengan air
mata yang luruh tanpa permisi.
**
Setelah percakapan abstrak itu, kamu tiba-tiba
menghilang. Sepertinya kamu memulai perjalanan barumu ke atmosfer itu. Membuka
cerita baru, pastinya dengan dia yang bukan aku. Atmosfer itu sepertinya
benar-benar bermakna untukmu. Dan untuk kedua kalinya, dengan sadarku, muncul
lagi tekad indah itu. Tekad untuk terus berjalan tanpamu. Tekad untuk tak
mempedulikanmu. Bulat sudah.
Hari-hariku tampak biasa saja sekarang, tentunya
hari-hariku tanpamu. Walaupun hanya tampak saja. Matahari dan hujan juga
begitu. Matahari muncul dengan sinarnya dan hujan muncul dengan rintiknya.
Seolah biasa, tanpa hambatan. Penduduk langit mulai tenang disana. Walau
sebenarnya antara keduanya terjadi perselisihan rahasia.
Hujan juga sudah membulatkan tekadnya untuk ikhlas. Hujan
perlahan merelakan keberadaannya. Karena hujan tahu, siapa dia sebenarnya. Dan
bagaimana sebenarnya kedudukannya. Ia hanya sebercak noda disela kehidupan
manusia. Yang datangnya terkadang mengganggu aktivitas mereka. Sedang
matahari?, siapa yang berani bertaruh tiada satu pun yang mengeluh akan
keberadaannya, walau terik sekalipun mereka tetap dapat memaklumi. Kemungkinan
hanya akan ada beberapa kata saja ‘Aduh, panas sekali hari ini’, terkadang ada
juga ‘Ampun, neraka bocor’. Bedakan dengan keberadaan hujan. Terkadang orang
memakinya. Mengatakan kata-kata tak sepantasnya. Mengumpat dalam hati. Orang
juga merasa dalam posisi bahaya saat hujan datang. Bahkan hujan sering disebut
sebagai pembawa sial. Padahal mereka sering sekali bertatap pada hujan dan
menceritakan segalanya.
Hujan berposisi sama denganku. Tidak diinginkan. Tetapi
masih saja digunakan sebagai wadah untuk dia menceritakan keluh kesahnya.
Sedang aku adalah seorang manusia yang dipenuhi dengan berjuta-juta sel dengan
perasaan tersendiri. Aku sudah ikhlas. Ikhlas karena memang keberadaanku hanya
sebagai wadah untuk cerita-ceritamu saja. Ikhlas karena sekarang saatnya tekad
itu tak berubah, tetap bulat begitu saja. Tak menjadi segi-segi aneh yang lain.
Bumi memang terus berputar. Sang waktu juga terus
berputar. Siang dan malam masih saja bergantian. Langit yang cerah dan langit
penuh bintang masih seimbang. Angin masih sama. Tak ada petir sama sekali.
Matahari terus bersinar. Sang hujan pergi sekarang. Meninggalkan semuanya.
Karena sekarang keberadaannya sudah harus digantikan oleh matahari. Iya, musim
kemarau lagi. Mungkin di lain atmosfer, hujan akan mendapati tempatnya lagi.
Berjuta-juta detik terlewati perlahan. Kamu masih sama,
mungkin kali ini kamu benar-benar nyaman disana. Di atmosfermu itu. Atau
pesawat yang kamu tumpangi untuk menuju atmosfer itu sedang rusak atau terjadi
gangguan. Sehingga kamu harus berlama disana. Banyak sekali kemungkinan
ketidakhadiranmu kali ini. Tapi aku sadar, aku harus tetap melaluinya. Aku
sadar, kamu memang bukan untukku. Aku sadar, selama ini aku hanya berada diatas
lapisan ketidaksadaranku saja. Aku sadar.......bahwa aku hanya sebatas dia,
sebelum dia menjadi kekasihmu.
**
Hujan dan matahari tidak akan pernah berhenti. Dalam sebuah
siklus, mereka akan saling bertukar posisi sampai Tuhan menghendaki semuanya
berhenti. Walaupun saat keadaan saling bertukar itu kebanyakan matahari
memperlakukan hujan sebagai hal yang tidak diinginkan, tetapi siklus tetap
siklus.
Mungkin sama halnya dengan aku dan kamu. Entah sekarang
kita sudah berhenti atau akan berlanjut. Karena kita ada dalam sebuah siklus,
dimana kamu dan dia ada disana sedang aku disini meratapi keberadaanku sendiri.
Mungkin semua ini hanya kemungkinan belaka. Tanpa ada
kejelasan seperti apa keadaan sebenarnya. Tapi tidak ada yang tidak mungkin
selama penulis menjadi Tuhan dalam kisah-kisah yang ia tulis.
Ini tentang
hujan dan matahari
Dua insan
yang sedang mengitari bumi
Mengarungi
derasnya badai
Melewati
jutaan mimpi
Hanya tentang
hujan dan matahari
Sebagai metafora
sebuah mimpi
Bukan aku
dan kamu yang sedang mencari
Sebuah tempat
untuk disinggahi
Ketika bumi
berhenti
Memanggil
semua insan dalam bumi
Semuanya
berhenti
Hujan dan
matahari turut prihatin
Aku dan
kamu berhenti mencari,
Berhenti
mengarungi,
Berhenti
menjelajahi mimpi
Lalu semuanya
pergi tanpa permisi