Ribuan
hujan perlahan pergi. Mereka sangat hebat mengembalikan beberapa memori. Ah memang benar, hujan punya zat yang bikin
seseorang kembali ke beberapa memorinya. Tapi kenapa masih banyak yang bilang ‘itu
sugesti’, oh mungkin mereka berhasil menemukan pelanginya, sedang aku tidak.
Malam
ini, dengan mata sembab, dengan keadaan terisak yang tidak jelas, dengan
semerbak harum tanah yang terpoles hujan, aku mencoba mengingatmu, di dalam
beberapa kalimat dan menjadikannya lembaran. Lembaran kusam. Yang tak akan
pernah terjamah olehmu.
Iya,
kamu.
**
Dia
indah. Mungkin dia yang selama ini aku nanti. Tidak dapat dipungkiri. Aku mencintai
dari kekurangannya.
Remember
that? Pertama kali melihatmu adalah saat dimana terdapat kerusakan fisik di
tubuhmu, dan seketika itu pula, aku iba, dan aku merasa mengikuti alurmu. Tak hentinya
mataku memperhatikan kemana kamu. Saat melihatmu, aku cuma bisa gigit jari
karena dua alasan, pertama kamu menarikku ke dalam alurmu, kedua, kamu
miliknya.
Iya,
mendengar kamu miliknya sebenarnya bukan hal berat untukku. Karena kamu selalu
indah. Dan apapun kesalahanmu, tetap saja aku menganggapmu indah. Bodoh? Bukan,
aku buta. Aku buta karena keindahanmu.
Beberapa
hari itu aku mengamatimu, aku menjadi, secret admirermu, yang saat itu aku
belum sadar bahwa, aku diam-diam mencintaimu.
Mataku
ini, tidak, aku tidak sepenuhnya menyalahkan waktu karena pada saat itu
mata&batinku juga menikmati indahnya kamu, dan renyahnya tawamu. Lihat? Aku
saja bisa merasakan tawamu.
Tapi
sepertinya, pengamatan itu bukan berarti membuat kamu bisa ‘melihatku juga’. Kamu
tetap bersamanya, dan aku tetap bergeming padamu. Bukan masalah.
Beberapa
bulan setelahnya, entah apa yang menyebabkan kedekatan kita, aku juga tidak
mengerti sampai saat ini. Yang aku ingat hanya, selama sebelas bulan itu, kamu
ada, dan aku ada. Dan kita sama-sama sadar kalau kita deket.
Oh
ya tuhan, ingin sekali aku bersamanya. Iya, itulah pertama kali doa yang
terselubung di dalam solatku, doaku untukmu, untuk pertama kali.
Saat
itu, aku berharap, aku dan kamu bisa jadi kita.
Tapi
sayang, karena dia, aku dan kamu ngga akan pernah jadi kita.
Bukan
maksud aku ingin merusak dia dan kamu. Sungguh.
Ini
juga untuk dia, seorang yang dulu sangat tulus mencintaimu. Maaf.
Aku
mencintaimu, dia juga, tapi dia menyerah, dan aku menang. Benarkah? Tidak. Aku benar-benar
tidak pernah merasa menang atas kekalahanmu mendapatkan dia, percayalah.
Baik,
selanjutnya.
Sebelas
bulan kedekatan kita.
Aku
merindukannya. Merindukan saat-saat bahagia aku dan kamu. Dalam sebuah pesan
dan itu indah. Seindah kamu.
Bodoh.
Aku bodoh karena sudah merasa kamu milikmu.
Semua
pesanmu, semua ucapanmu, masih ada disini. Masih ada bersamaku. Dan aku tetap
menganggapnya indah walau kamu membuangnya.
Aku
merindunya.
Seorang
yang setiap pagi mengucapkan selamat pagi dengan instrumen yang indah.
Kamu.
Kamu
adalah seorang yang hatiku banggakan.
Dan.
Kamu.
Adalah
satu-satunya orang yang selalu, dan akan selalu ku ingat dalam deras waktu.
Aku
merindukanmu.
Setiap
detik bersamamu, selama sebelas bulan itu, aku merindunya,
Flirt
messagemu.
Ya
tuhan.
Engkau
begitu adilnya, telah memberiku malaikat itu.
Walau
aku juga harus melepasnya.
Sebelas
bulan itu selalu ada untukku.
Tak
ada air mata.
Hanya
ada senyum, bahagia, dan indah.
Sebelas
bulan tidak cepat.
Dan
tidak lama.
Tapi
aku menikmatinya.
Iya,
aku mencintaimu.
Aku
melawan kesendirianku. Denganmu. Melawan kesepian, juga denganmu.
Tapi
Aku
juga harus merasa kesepian, karenamu.
Sebelas
bulan berlalu. Beribu-ribu pesan dan beribu-ribu senyum aku dapatkan.
Aku
mencintaimu.
Di
siang hari itu, di bulan juni, di hari sabtu, sebuah tragedi terjadi, mengawali
semua tentangku, dan tentangmu, yang akan menjadi, kita.
Dengan
basa-basimu, aku mulai percaya padamu, dan berkata bahwa,
Detik
ini aku dan kamu akan berubah menjadi kita.
Kamu
masih sama.
Masih
saja seperti sebelas bulan itu.
Selalu
bisa membuat moment yang manis hanya dengan sebuah pesan.
Hanya
saja
Ingat
bahwa semua melarang aku dan kamu untuk menjadi kita.
Dan
ingat bahwa kamu dulu pernah melawan arus ambang putus itu bersamaku.
Karena
semua membenci kita.
Dan
kita bertahan.
Tapi
kamu sudah membenci itu? Baiklah.
Dulu
kita bertahan sama-sama, tapi sekarang kamu akan bertahan sama dia, dan aku? Bertahan
sama sepiku. Seperti dulu.
Cinta,
kangen, sayang, aku sering mendengar kata-kata itu dulu.
Dulu.
Rasa percayaku ke kamu sudah ngga bisa
digambarin pake apapun, karena, percayaku ada di kamu. Semua rasa percayaku.
Berhari-hari
mengalami kondisi bertahan itu membuatku sadar
Aku
benar-benar mencintaimu
Dan
Melepaskanmu
butuh waktu yang sangat lama
Bahkan aku tidak pernah membayangkan
Bagaimana aku tanpamu
Dulu,
sedihmu adalah sedihku, sebaliknya, sekarang? Aku sedih sendiri kamu seneng
sendiri.
Aku
mengingatnya, sedetik demi sedetik perjalanan itu. Dan aku masih mengingat
sebuah hal yang tidak akan pernah aku lupakan, sebuah hal yang berharga
untukku.
Hanya
rasa bahagia saat aku menjalani itu denganmu.
Aku
mencintaimu
Hingga
aku tidak ingin kamu pergi
Aku
melakukan semuanya
Agar
kamu tidak pergi
Tapi
Aku
tak pernah sadar
Apa
yang aku lakukan
Membuatmu
lelah
Dan
Membenciku
Padahal
Semua
itu hanya bentuk
AKU TIDAK INGIN KEHILANGANMU
Tapi
kamu tidak bisa menerimanya
Sampai
saat dimana keputusanmu untuk meninggalkanku.
Tapi
kamu masih indah.
Akan
selalu indah.
18
Oktober 2011
Kelima
bulan kita bersama
Kamu
pergi
Meninggalkan
aku
Dengan
ucapan yang benar-benar menyakitiku
Memang
salahku membuatmu lelah
Tapi
Aku
mencintaimu dan tidak ingin kamu pergi
Dengan
ribuan pesan sebelum kamu putus, aku punya arsipnya, dan detik-detik saat air
mataku meluruh ini, aku punya arsipnya
Dan
aku berjanji pada diriku sendiri
Nanti
Ketika
aku sudah berumah tangga dan memiliki seorang anak
Ia
harus mengetahui itu agar ia tidak pernah melakukan hal yang sama, dan agar ia
tidak pernah menangis karena ulah lelaki.
Jadi
Keputusanmu
untuk pergi adalah murni kesalahanku
Tapi
saat itu
Aku
belum sempat mengatakan bahwa
Aku
mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu meski kita berpisah.
**
Dan
sekarang, aku juga harus menahannya untuk tiga tahun mendatang, menahan perasaan
bodoh ini, dan menahan untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu dengan segala
tingkahmu yang kamu lakukan, dengan semua kata kebencianmu untukku. Bodoh jika
kamu tetap berusaha mengataiku dengan faktamu, karena aku hanya akan
membalasnya dengan senyuman.
Sampai
kamu sadar
Kalau,
tingkahmu itu salah.
Dan
beberapa bulan ini ada beberapa instrumen yang menyakitkanku
‘aku
khilaf dulu blablablabla’ what the hell with every words u say I LOVE YOU and
MY LOVE ALWAYS GROW U KNOW FUCKIN BITCH GO TO HELL
Dan
percayalah cintaku tumbuh seiring dengan kebencianmu.
Jadi
dulu aku kamu anggep apa
Aku
kamu anggep sampah?
Atau
pelarian?
Harusnya
itu ngga berlangsung lima bulan
Dan
kalo emang ngga sayang
Kenapa
kamu ngga bilang
Dan
langsung mutusin aku saat itu juga
Dan
kenapa ITU BERLANGSUNG LIMA BULAN YANG AKU BENAR-BENAR MENGHARGAI WAKTU ITU
ASTAGA
Kenapa
ada seseorang yang berbuat setega itu dan kenapa itu harus terjadinya ke aku?
Dan
baru dua hari yang lalu, sahabatmu mengatakan hal yang lebih jauh membuatku
terluka. But you dont want to care with that, bcs i dont care with your knows.
Hanya
saja
Aku
lelah mengatakan aku mencintaimu saat kamu berusaha membenciku
Sebenarnya
Apasih
aku waktu itu
Siapasih
aku selama lima bulan itu
Dan
kenapa kamu sekarang kayak gini ke aku?
SEBENERNYA
KAMU KERASUKAN APA WAKTU KAMU BILANG KAMU SAYANG AKU?
TERUS
KENAPA KAMU NGOMONG AKU SAYANG KAMU ITU GA CUMA SEKALI DUA KALI?
Aku
trauma.
Trauma
sama cinta.
Sampai-sampai
aku ngga tau gimana cinta itu
Sekarang
yang aku tahu
Setiap
aku melihatmu, di lehermu, terdapat kalung yang menyala, dan bertuliskan, bunuh
aku.
Karena
jujur aku memang benar-benar ingin membunuhmu.
Bodoh
dengan julukan psikopat.
Itu
masih sedikit kata-kata pahit yang aku tahu, jika ingin melanjutkannya,
lanjutkan saja, karena pada akhirnya,
Aku
Tetap
mencintaimu
Walau
pahit itu selalu ada
Walau
rasa ingin membunuhmu sangat besar
Walau
kamu tetap bersembunyi di balik temanmu
Cintaku,
tumbuh, untukmu.
Dan
izinkanlah aku mengatakan ini untuk yang pertama.
Dear, kamu.
Kamu yang selalu aku puja.
Lelaki tampan diidamkan semua wanita. Bisakah
kamu tidak berusaha menjauhkanku darimu dengan memberi kata-kata pahit? Oiya,
bukankah kamu membenci jamu, itu pahit, iya bukan? Tentu, bayangkan kamu
meminum jamu ketika kamu mengucap kata-kata pahit ya, biar mungkin, maaf,
otakmu agak sedikit bekerja, dan berpikir, bahwa, kamu bukan segalanya buat
aku, jadi, whatever you said sayangku, kamu tetep pangeran yang berubah jadi
anjing di depanku. Dan menurutku, bersyukurlah karena belum semua wanita
mengetahui bahwa kamu lebih parah dari anjing.
Aku memang mencintaimu.
Tapi aku juga ingin menamparmu dan
menjauhkanmu dari kehidupanku.
Ya, semoga.
Tenang saja, kamu selalu ada dalam doaku.
Doaku takkan pernah buruk untukmu. Walau kamu
ngga pernah minta didoain, hell yeah yg doa aku kan.
Dan aku sudah sadar, kita sudah berhenti
sejak tiga tahun yang lalu.
Semoga doa, semoga kata-kata, semoga ucapan
kasarmu, semoga pahit yang dulu aku rasakan, Allah mendengarnya.
Karena aku yakin,
Kasarmu
adalah sisi halusmu yang hilang
Pahitku
adalah manismu yang pergi
Jadi,
Biar Allah dan kamu yang melanjutkan. Dan semoga
ucapan pahitmu segera berhenti, dan semoga aku akan ikhlas menerimanya jika itu
akan ada lagi.
Tentangmu.2014.04.12.23:28