Jumat, 18 April 2014

kangen?

Malam ini sebenarnya bukan termasuk malam sendu, bukan juga malam pilu. Tapi malam ini sepertinya beberapa pikiranku terpaku padamu, lagi. Sebenarnya bukan beberapa, tapi semua.
Malam ini tidak hujan, tidak juga berangin, tapi pikiran, hati, dan mataku merasakan hujan dan berangin. Iya. Seperti itu. Mengerti? Oh, ku perjelas, menangis.
Karena pikiranku sudah basah, mungkin sekarang aku harus memerasnya habis-habisan agar cepat kering.
Iya dengan merangkai kata, untukmu, lagi.
Emangnya ada selain kamu?
***
Kembali pada skenario itu ya, skenario Tuhan maksudnya. Dengan tulisan ‘tentangmu’ itu sepertinya mengawali rasa ini.
Setelah dua tahun berlalu, atau mungkin sekarang adalah dua tahun lebih 10 bulan, almost three years, aku menunggumu. Dan mungkin tiada puncak untukku menunggumu, yang artinya, tidak akan pernah ada kata berhenti. Karena dua garis sejajar itu tidak akan pernah bertemu di satu titik dan dapat diperpanjang sebagaimana hingga. Proyeksikan itu kepadaku. Maaf, math effect.
Playlistku sekarang, Like We Used To. Sebenarnya bukan hal penting, tapi ini berawal dari lagu ini.
Selamat malam, ini aku yang selalu menunggumu.
Dulu, waktu aku dan kamu disebut kita.
Semua yang kita lakukan adalah indah. Entah itu salah atau benar, tapi itu selalu saja indah. Salah. Dan benar-benar salah.
Semua hal yang rasional dilakukan bersama. Rasional untuk anak usia 12 tahun.
Sedih, bersama. Senang, bersama. Nangis? Aku sendiri sih.
Dulu, aku sangat menginginkan ucapan ucapan mesramu. Sekarang? Aku masih menginginkannya.
Kalo kataku, aku selalu menginginkanmu.
Dulu, kita adalah cinta. Cinta yang pernah tumbuh. Lalu menghilang.
Sekarang. Setelah tiga puluh empat bulan apa yang disebut kita, sudah ngga ada.
Aku masih terpaku sama kamu.
Kamu? Sudah pergi dengan yang lainnya.
Sebenarnya, aku tidak memaksakan cinta, tidak memaksakan aku harus memiliki.
Hanya saja, menghilangkan rasa ini seperti harus hidup selama-lamanya. Impossible.
Dan sekarang, hari ini, jam ini, detik ini.
Aku melayang, seperti burung yang bisa terbang ke masa lalu.
Memperhatikan ‘kita’ yang sedang bertatapan satu sama lain. Yang tak terasa, bulir ini turun dan meluruh sesuka hatinya.
Bertatapan satu sama lain. Everyday we do. If we meet. So hell yeah.
Sekarang aku harus menatapmu bertatapan dengan orang lain yang bukan aku.

Dan sepertinya.
Aku merindumu.
Merindu semua tatapanmu.
Dan semua tentangmu.

Jadi, ini toh kangen?
Sebegitu menariknya, dan menyakitkan ya ternyata.
Apalagi, yang aku kangenin adalah. Kamu.
Yang jelas-jelas sudah berkangen-kangenan dengan yang lain, yang bukan aku.

Kangen sama orang yang sudah jadi milik orang lain.
Lucu, tapi tetep aja ngenes.

Apa aku masih ga rela sih?
Apa aku masih belum bisa lepas dari kamu?
Apa aku juga belum bisa berhenti menatapmu?

Puncak kangenku, adalah hari ini.
Hari dimana semuanya datang lagi tanpa aku menyuruhnya.

Sebenarnya aku berharap ini adalah city of dream, but im not sleeping now.

Lagi-lagi, ini tentang kamu.
Tentang perasaan rinduku untukmu.
Bukan pertama aku merasa rindu. Tapi ini yang terhebat.
Aku akan merindumu, walau tiada balasannya. Dan tidak akan pernah aku menyebutnya rindu yang tak terbalas. Karena masa bodoh dengan balasan itu.

Kangenku, sekarang ke kamu.
Kamu, kangennya sama dia.
Dan aku tetep kangen kamu.
Terus? Apa kamu gabisa kangen aku?
Eh lupa, buat apa kamu kangen aku.
Iya, sudah ada the gold woman kan sama kamu.
Oiya semoga the gold womannya ga senasib lah.
Biar, dia ga ribet ngelupain kamu. Kayak aku.

Jadi? Apa tanggung jawabmu sama rasa kangenku?
Apa kamu bisa ngilangin rasa kangenku hari ini?
Atau minimal, kamu bisa bikin aku, ngga sia-sia ngangenin kamu.
Percuma kan?
Aku ngomong sama kertas lagipula.
Jadi kamu juga ga akan tau dan ga akan mau tau.
Tapi tenang aja,
Kangenku masih buat kamu.

Selamanya


Kangenku buat kamu.

Sabtu, 12 April 2014

Tentangmu.

Ribuan hujan perlahan pergi. Mereka sangat hebat mengembalikan beberapa memori.  Ah memang benar, hujan punya zat yang bikin seseorang kembali ke beberapa memorinya. Tapi kenapa masih banyak yang bilang ‘itu sugesti’, oh mungkin mereka berhasil menemukan pelanginya, sedang aku tidak.
Malam ini, dengan mata sembab, dengan keadaan terisak yang tidak jelas, dengan semerbak harum tanah yang terpoles hujan, aku mencoba mengingatmu, di dalam beberapa kalimat dan menjadikannya lembaran. Lembaran kusam. Yang tak akan pernah terjamah olehmu.
Iya, kamu.

**
Dia indah. Mungkin dia yang selama ini aku nanti. Tidak dapat dipungkiri. Aku mencintai dari kekurangannya.
Remember that? Pertama kali melihatmu adalah saat dimana terdapat kerusakan fisik di tubuhmu, dan seketika itu pula, aku iba, dan aku merasa mengikuti alurmu. Tak hentinya mataku memperhatikan kemana kamu. Saat melihatmu, aku cuma bisa gigit jari karena dua alasan, pertama kamu menarikku ke dalam alurmu, kedua, kamu miliknya.
Iya, mendengar kamu miliknya sebenarnya bukan hal berat untukku. Karena kamu selalu indah. Dan apapun kesalahanmu, tetap saja aku menganggapmu indah. Bodoh? Bukan, aku buta. Aku buta karena keindahanmu.
Beberapa hari itu aku mengamatimu, aku menjadi, secret admirermu, yang saat itu aku belum sadar bahwa, aku diam-diam mencintaimu.
Mataku ini, tidak, aku tidak sepenuhnya menyalahkan waktu karena pada saat itu mata&batinku juga menikmati indahnya kamu, dan renyahnya tawamu. Lihat? Aku saja bisa merasakan tawamu.
Tapi sepertinya, pengamatan itu bukan berarti membuat kamu bisa ‘melihatku juga’. Kamu tetap bersamanya, dan aku tetap bergeming padamu. Bukan masalah.
Beberapa bulan setelahnya, entah apa yang menyebabkan kedekatan kita, aku juga tidak mengerti sampai saat ini. Yang aku ingat hanya, selama sebelas bulan itu, kamu ada, dan aku ada. Dan kita sama-sama sadar kalau kita deket.
Oh ya tuhan, ingin sekali aku bersamanya. Iya, itulah pertama kali doa yang terselubung di dalam solatku, doaku untukmu, untuk pertama kali.
Saat itu, aku berharap, aku dan kamu bisa jadi kita.
Tapi sayang, karena dia, aku dan kamu ngga akan pernah jadi kita.
Bukan maksud aku ingin merusak dia dan kamu. Sungguh.
Ini juga untuk dia, seorang yang dulu sangat tulus mencintaimu. Maaf.
Aku mencintaimu, dia juga, tapi dia menyerah, dan aku menang. Benarkah? Tidak. Aku benar-benar tidak pernah merasa menang atas kekalahanmu mendapatkan dia, percayalah.
Baik, selanjutnya.
Sebelas bulan kedekatan kita.
Aku merindukannya. Merindukan saat-saat bahagia aku dan kamu. Dalam sebuah pesan dan itu indah. Seindah kamu.
Bodoh. Aku bodoh karena sudah merasa kamu milikmu.
Semua pesanmu, semua ucapanmu, masih ada disini. Masih ada bersamaku. Dan aku tetap menganggapnya indah walau kamu membuangnya.
Aku merindunya.
Seorang yang setiap pagi mengucapkan selamat pagi dengan instrumen yang indah.
Kamu.
Kamu adalah seorang yang hatiku banggakan.
Dan.
Kamu.
Adalah satu-satunya orang yang selalu, dan akan selalu ku ingat dalam deras waktu.
Aku merindukanmu.
Setiap detik bersamamu, selama sebelas bulan itu, aku merindunya,
Flirt messagemu.
Ya tuhan.
Engkau begitu adilnya, telah memberiku malaikat itu.
Walau aku juga harus melepasnya.

Sebelas bulan itu selalu ada untukku.
Tak ada air mata.
Hanya ada senyum, bahagia, dan indah.
Sebelas bulan tidak cepat.
Dan tidak lama.
Tapi aku menikmatinya.
Iya, aku mencintaimu.

Aku melawan kesendirianku. Denganmu. Melawan kesepian, juga denganmu.
Tapi
Aku juga harus merasa kesepian, karenamu.

Sebelas bulan berlalu. Beribu-ribu pesan dan beribu-ribu senyum aku dapatkan.
Aku mencintaimu.

Di siang hari itu, di bulan juni, di hari sabtu, sebuah tragedi terjadi, mengawali semua tentangku, dan tentangmu, yang akan menjadi, kita.
Dengan basa-basimu, aku mulai percaya padamu, dan berkata bahwa,
Detik ini aku dan kamu akan berubah menjadi kita.
Kamu masih sama.
Masih saja seperti sebelas bulan itu.
Selalu bisa membuat moment yang manis hanya dengan sebuah pesan.
Hanya saja
Ingat bahwa semua melarang aku dan kamu untuk menjadi kita.
Dan ingat bahwa kamu dulu pernah melawan arus ambang putus itu bersamaku.
Karena semua membenci kita.
Dan kita bertahan.
Tapi kamu sudah membenci itu? Baiklah.
Dulu kita bertahan sama-sama, tapi sekarang kamu akan bertahan sama dia, dan aku? Bertahan sama sepiku. Seperti dulu.
Cinta, kangen, sayang, aku sering mendengar kata-kata itu dulu.
Dulu.
Rasa percayaku ke kamu sudah ngga bisa digambarin pake apapun, karena, percayaku ada di kamu. Semua rasa percayaku.
Berhari-hari mengalami kondisi bertahan itu membuatku sadar
Aku benar-benar mencintaimu
Dan
Melepaskanmu butuh waktu yang sangat lama
Bahkan aku tidak pernah membayangkan
Bagaimana aku tanpamu
Dulu, sedihmu adalah sedihku, sebaliknya, sekarang? Aku sedih sendiri kamu seneng sendiri.
Aku mengingatnya, sedetik demi sedetik perjalanan itu. Dan aku masih mengingat sebuah hal yang tidak akan pernah aku lupakan, sebuah hal yang berharga untukku.
Hanya rasa bahagia saat aku menjalani itu denganmu.

Aku mencintaimu
Hingga aku tidak ingin kamu pergi
Aku melakukan semuanya
Agar kamu tidak pergi
Tapi
Aku tak pernah sadar
Apa yang aku lakukan
Membuatmu lelah
Dan
Membenciku
Padahal
Semua itu hanya bentuk
AKU TIDAK INGIN KEHILANGANMU
Tapi kamu tidak bisa menerimanya
Sampai saat dimana keputusanmu untuk meninggalkanku.
Tapi kamu masih indah.
Akan selalu indah.

18 Oktober 2011
Kelima bulan kita bersama
Kamu pergi
Meninggalkan aku
Dengan ucapan yang benar-benar menyakitiku
Memang salahku membuatmu lelah
Tapi
Aku mencintaimu dan tidak ingin kamu pergi
Dengan ribuan pesan sebelum kamu putus, aku punya arsipnya, dan detik-detik saat air mataku meluruh ini, aku punya arsipnya
Dan aku berjanji pada diriku sendiri
Nanti
Ketika aku sudah berumah tangga dan memiliki seorang anak
Ia harus mengetahui itu agar ia tidak pernah melakukan hal yang sama, dan agar ia tidak pernah menangis karena ulah lelaki.
Jadi
Keputusanmu untuk pergi adalah murni kesalahanku
Tapi saat itu
Aku belum sempat mengatakan bahwa
Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu meski kita berpisah.

**
Dan sekarang, aku juga harus menahannya untuk tiga tahun mendatang, menahan perasaan bodoh ini, dan menahan untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu dengan segala tingkahmu yang kamu lakukan, dengan semua kata kebencianmu untukku. Bodoh jika kamu tetap berusaha mengataiku dengan faktamu, karena aku hanya akan membalasnya dengan senyuman.
Sampai kamu sadar
Kalau, tingkahmu itu salah.
Dan beberapa bulan ini ada beberapa instrumen yang menyakitkanku
‘aku khilaf dulu blablablabla’ what the hell with every words u say I LOVE YOU and MY LOVE ALWAYS GROW U KNOW FUCKIN BITCH GO TO HELL
Dan percayalah cintaku tumbuh seiring dengan kebencianmu.
Jadi dulu aku kamu anggep apa
Aku kamu anggep sampah?
Atau pelarian?
Harusnya itu ngga berlangsung lima bulan
Dan kalo emang ngga sayang
Kenapa kamu ngga bilang
Dan langsung mutusin aku saat itu juga
Dan kenapa ITU BERLANGSUNG LIMA BULAN YANG AKU BENAR-BENAR MENGHARGAI WAKTU ITU ASTAGA
Kenapa ada seseorang yang berbuat setega itu dan kenapa itu harus terjadinya ke aku?
Dan baru dua hari yang lalu, sahabatmu mengatakan hal yang lebih jauh membuatku terluka. But you dont want to care with that, bcs i dont care with your knows.
Hanya saja
Aku lelah mengatakan aku mencintaimu saat kamu berusaha membenciku
Sebenarnya
Apasih aku waktu itu
Siapasih aku selama lima bulan itu
Dan kenapa kamu sekarang kayak gini ke aku?
SEBENERNYA KAMU KERASUKAN APA WAKTU KAMU BILANG KAMU SAYANG AKU?
TERUS KENAPA KAMU NGOMONG AKU SAYANG KAMU ITU GA CUMA SEKALI DUA KALI?
Aku trauma.
Trauma sama cinta.
Sampai-sampai aku ngga tau gimana cinta itu
Sekarang yang aku tahu
Setiap aku melihatmu, di lehermu, terdapat kalung yang menyala, dan bertuliskan, bunuh aku.
Karena jujur aku memang benar-benar ingin membunuhmu.
Bodoh dengan julukan psikopat.

Itu masih sedikit kata-kata pahit yang aku tahu, jika ingin melanjutkannya, lanjutkan saja, karena pada akhirnya,
Aku
Tetap mencintaimu
Walau pahit itu selalu ada
Walau rasa ingin membunuhmu sangat besar
Walau kamu tetap bersembunyi di balik temanmu
Cintaku, tumbuh, untukmu.
Dan izinkanlah aku mengatakan ini untuk yang pertama.

Dear, kamu.
Kamu yang selalu aku puja.
Lelaki tampan diidamkan semua wanita. Bisakah kamu tidak berusaha menjauhkanku darimu dengan memberi kata-kata pahit? Oiya, bukankah kamu membenci jamu, itu pahit, iya bukan? Tentu, bayangkan kamu meminum jamu ketika kamu mengucap kata-kata pahit ya, biar mungkin, maaf, otakmu agak sedikit bekerja, dan berpikir, bahwa, kamu bukan segalanya buat aku, jadi, whatever you said sayangku, kamu tetep pangeran yang berubah jadi anjing di depanku. Dan menurutku, bersyukurlah karena belum semua wanita mengetahui bahwa kamu lebih parah dari anjing.
Aku memang mencintaimu.
Tapi aku juga ingin menamparmu dan menjauhkanmu dari kehidupanku.
Ya, semoga.
Tenang saja, kamu selalu ada dalam doaku.
Doaku takkan pernah buruk untukmu. Walau kamu ngga pernah minta didoain, hell yeah yg doa aku kan.
Dan aku sudah sadar, kita sudah berhenti sejak tiga tahun yang lalu.
Semoga doa, semoga kata-kata, semoga ucapan kasarmu, semoga pahit yang dulu aku rasakan, Allah mendengarnya.
Karena aku yakin,
Kasarmu adalah sisi halusmu yang hilang
Pahitku adalah manismu yang pergi
Jadi,
Biar Allah dan kamu yang melanjutkan. Dan semoga ucapan pahitmu segera berhenti, dan semoga aku akan ikhlas menerimanya jika itu akan ada lagi.


Tentangmu.2014.04.12.23:28