Sabtu, 24 Januari 2015

Hujan dan Matahari

Ribuan hujan seakan enggan pergi. Mereka ingin tinggal. Walau matahari sudah datang menyambut bumi dan memancarkan cahaya. Seperti terusir, rintiknya berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Tetapi, air akan menguap karena panas. Sebab mentari datang dengan sinarnya yang dahsyat. Rintik itu mengaku kalah. Ia pergi dan pasti akan kembali. Entah datang sendiri atau diundang. Diundang, oleh matahari yang lelah memancarkan sinarnya.
Dua musim mengakibatkan hujan dan matahari berbagi waktu. Waktu yang bisa saja berlalu dan terus berjalan. Hujan dan matahari mendapatkan dua posisi yang sama. Hanya saja, akan jarang kalian temukan hujan saat musim kemarau. Tapi kalian dapati matahari bersinar begitu terangnya di musim hujan. Bertaruh tentang keadilan, hujan lah pemenang dari sidang ‘siapa yang paling benar diantara matahari dan hujan’. Tapi atmosfer dan lapisan-lapisan diatasnya tidak mau tahu hasil dari sidang itu. Mereka hanya ingin tahu, proses antara keduanya agar biosfer berjalan seperti biasanya. Semuanya harus tampak seperti biasanya, walau di dalamnya, ribuan kerusakan terjadi.
Hujan dan matahari itu seperti aku dan kamu. Aku yang selalu ingin bertahan dan selalu berusaha bertahan. Tetapi kamu, dengan sekuat kemampuanmu, membuatku tak tinggal. Parahnya, memanggilku begitu saja jika sinarmu lelah. Kita berada dalam satu dimensi yang sama. Dalam waktu yang sama. Kamu selalu bersinar, dari masa ke masa. Kamu idola mereka. Cahaya terangmu bermanfaat bagi semuanya. Sedang aku hanya serpihan belaka. Bahkan, terkadang banyak sekali yang mencaciku, karena kedatanganku yang membawa masalah bagi mereka.
**
Di suatu pagi yang cerah. Dengan pakaian tidurku. Masih segar dengan semerbak aroma teh dan dedaunan basah di taman belakang rumah. Aku melihat sosokmu, membawa sebuah bunga mawar, dengan mata yang menatapku dan berbicara ‘bisa bicara sebentar?’. Senang akan kedatanganmu bukan menjadi kali pertama untukku. Tapi melihat mawar indah itu, menjadi kali pertama untukku.
Ia memanggil namaku dengan penuh semangat. Bak anak taman kanak-kanak menyambut guru mereka. Aku tersenyum kecil dan mempersilahkannya melompati pagar taman. Kamu masih sama. Walau kita terpisah beberapa blok, senyuman dan tawamu tak pernah terpisah dariku.
“Tehnya cuma satu aja?.”, sambutnya yang membuatku sedikit tertawa. Tanpa menggubrisnya, aku berlalu.
Pikiranku tertuju padanya. Tersenyum lebar dan tertawa melihat ulahnya. Sampai terhidagkanlah, teh dengan aroma melati yang hanya khusus untuk orang spesial.
“Pesananmu, Pak.”, candaku. Dia tertawa.
Perlahan dia meneguk tehnya. Wajahnya memerah karena panas yang mengepul diatas teh itu. Wajahnya tampak lucu dari sini. Entahlah bagaimana sekarang keadaan wajahku yang tak beraturan karena menahan tawa. “Thankyou.”, dia tersenyum mengejek. Aku hanya mengangguk. Ku tatap mawarnya dan dia meliriknya juga.
“Oh, ini... Um, sebenarnya sih aku... Ah entahlah. For you.”, sisi ketidak-relaannya menampakkan sesuatu. Seperti berucap, ‘ada peristiwa sebelum ini, mawar ini bukan untukmu, ini untuk orang lain dalam peristiwa sebelumnya’. Wajah tak relamu itu seakan menampakkan sinar, yang membuatku kalah. Walau penasaran, aku tetap menerima mawar itu.
“Kebiasaan kayak gini terus. Dateng-dateng seneng, tiba-tiba berubah. Ujungnya juga, aku nggak ngerti apa-apa.”, ucapku. Mungkin sedikit ketus. Tapi inilah prosedurnya.
“Pointnya...”, dia berucap cukup lama. Selama mungkin untuk menutupi semuanya. Tapi aku lebih cepat darinya.
“Berantem?”, selaku. Momen ini aku sebut, faster girl ever.
Dia hanya mengangguk. Kemudian bibirnya bergerak panjang lebar atas bawah, ya aku tak begitu hafal argumen atau pengakuannya. Dia menjelaskan perasaannya, penyebab pertengkarannya dengan.......kekasihnya dan aku hanya bisa mendengarkan. Saran? Entah. Aku tak begitu paham dengan permasalahan mereka. Sampai tiada saran selain ‘yang sabar ya’. Yang jelas aku membelanya saat itu. Tapi aku selalu berpikir untuk tidak mengetahui sesuatu hanya dari satu sisi saja. Aku membelanya dan dia terlihat lebih baik. Kemudian dia pergi begitu saja.
Dia pergi dan belum kembali. Seiring dengan mawar yang perlahan mulai kering dan lama-lama tinggal tangkai saja. Hari berganti minggu sampai minggu berganti bulan. Aku tak melihatmu, entah melompati pagarku, atau sekedar menyapaku di halaman depan. Kamu seperti sedang memiliki misi ke luar angkasa. Hilang dalam sunyi. Memasuki atmosfer lain yang lebih membuatmu nyaman. Bagimu, atmosfer itu tak perlu dicari. Hanya perlu sedikit bumbu yang mereka sebut sebagai permintaan maaf. Tentunya, untuk dia, kekasihmu. Kekuatan dari sebuah permintaan maaf membuatmu lupa bahwa ketika dia sedang tidak disampingmu, ada aku disana. Berperang batin dan tetap berusaha untuk mendengarkan semua keluh kesahmu. Saat dia berkata ‘Ah, sudahlah’, masih ada aku yang berusaha untuk mengeluarkan pendapat-pendapatku. Padahal aku tahu, tidak ada satupun pendapatku yang sedikit saja membekas untukmu.
Seiring bergantinya hari, tekad bulat untuk mengatakan tidak pada semuanya yang berhubungan denganmu. Aku menjalaninya, seperti biasanya. Walau ada kerusakan di dalamnya. Sama seperti hujan dan matahari, yang bersidang ‘siapa yang paling benar diantara keduanya’, tapi biosfer memaksanya untuk tetap seperti sedia kala, walau ada kerusakan di dalamnya.
Tapi, pada suatu titik tertentu. Aku mengaku kalah pada tekad bulatku, yang selanjutnya berubah menjadi tekad segi tak beraturan. Sama seperti air yang akan menguap karena panas. Hujan pun mengaku kalah dengan matahari.
Kamu kembali. Walau kali ini dalam keadaan abstrak.
**
Aroma tanah kering yang terkena hujan. Aroma yang benar-benar menyejukkan. Tapi belum banyak diantara mereka yang mengenali aroma ini. Padahal, aromanya dapat memberi kekuatan untuk menyembuhkan dan menenangkan. Menyembuhkan beberapa luka, mengeringkan, walaupun tak sempat tertutup rapat. Sedikit tapi begitu penuh makna. Untuk beberapa orang penyuka hujan, sepertiku. Aroma ini membuatku dapat menyentuh peristiwa lampau yang cukup menyenangkan. Terkadang, aroma ini membawaku pada suatu peristiwa yang cukup membekas. Aroma ini mengalami dilema dalam menyikapi mereka yang menyukainya.
Malam ini, rintik—rintik hujan berhasil mengalahkan sinar bulan. Dari jendela ini, aku melihat gumpalan awan cukup besar yang menyapu langit. Indah sekali. Gelap, penuh dengan suara gemuruh dan tentunya cahaya petir. Menggetarkan hati mereka yang sedang bercanda ria di luar sana. Tapi menghibur hati yang sedang sepi. Kolaborasinya membuat suatu pertunjukkan yang cukup menghibur. Mereka bilang kolaborasi ini membahayakan, bagiku, ini sebuah hiburan di malam Sabtu yang cukup sendu.
Lamunanku ini berkualitas. Diam-diam aku memperhatikan benda mati. Berinteraksi dengan mereka. Saat di luar sana, banyak orang yang sedang bercengkrama satu sama lain. Aku tertawa rintih.
Dahulu, aku pernah menjadi mereka yang memiliki dunia di luar sana. Bercengkrama satu sama lain. Melangkah kemana angin membawa. Tetapi, sekarang aku bukan lagi mereka. Tanpa alasan. Aku menemukan aku yang sebenarnya. Banyak orang menyebutnya jati diri, padahal sebenarnya ini mudah. Hanya sesimpel, berusaha mendengarkan hatiku dan melaluinya seperti angin menyapu debu. Sekarang, aku adalah raja sekaligus ratu di dalam hidupku sendiri. Akulah pemimpin diriku yang sebenarnya. Tak ada orang lain yang bisa.
“Dongeng lama yang masih saja hangat”, ucapku dan disusul dengan tawa beratku. Setitik air mata jatuh disela tawa itu.
Dahulu, tiada rasa malu untuk menangis. Sekarang, aku berbeda. Aku berada di dimensi penuh kepalsuan. Semuanya harus terlihat baik-baik saja. Seperti biosfer yang tidak mau tahu akan persidangan hujan dan matahari. Sekuat tenaga, semuanya harus terlihat biasa saja, semuanya harus terlihat bahagia. Tangis, sedih dan apapun itu harus tetap menjadi bahagia. Walaupun, bahagia semu. Aku tersenyum. Tersenyum dalam kesendirian. Yang berarti, aku berhasil membuatnya terlihat biasa saja.
“Aku capek.”, aku mendengar suara itu. Suara yang perlahan mendekat. Cahaya lampu menyorot wajahnya. Aku benar-benar melihat seseorang yang kelelahan disana. Aku bangkit dari singgasanaku dan mendekatinya. Aku memandanginya, dalam dan penuh keikhlasan disana. Mataku seakan berbicara, ‘ada apa sebenarnya?’. Dia menangis. Lelaki tegap yang sejak dulu aku kenal. Dia menangis. Untuk pertama kalinya.
Aku berusaha menenangkan dan mencairkan suasana hatinya. Yang sepertinya sedang berapi-api. Dimensi kepalsuan. Semuanya harus terlihat biasa saja. Sampai suatu kemarahan besar hanya bisa diungkapkan melalui air mata.
“Cerita aja, waktu kamu udah siap cerita. Sama kayak cinta kan?. Love when you ready to love.”, ucapku. Dan berharap beberapa kata-kata itu ampuh padanya. Dia menatapku dengan mata yang seakan bertanya-tanya maksudku. Aku tersenyum. Entah bagaimana senyumku, hancur atau senyum ababil, entahlah.
“Apalagi perumpamaan cinta yang kamu tahu, maksudku selain yang barusan.”, tanyanya. Terasa luruh di sekujur tubuhku, yang menandakan bahwa aku sangat lega sekarang. Sedikit ampuh ternyata, walaupun hanya sementara.
“Cinta itu kayak baju favorit kita. Entah bikin kita kelihatan kurus atau gemuk, kainnya udah lusuh atau udah berubah warna, mau dipake selama kapanpun, kamu tetep suka. Walaupun, orang udah bilang ‘kayak ga ada baju lain aja, pakenya ini-ini mulu’, kamu tetep suka baju itu dan ga peduli omongan orang.”, ucapku. Dia tertawa kecil sekarang. Dimensi kepalsuan lagi, mungkin.
“Sayangnya, kita terus tumbuh, dan baju itu pasti bakal bener-bener udah nggak bisa dipake lagi.”, dia mulai menanggapiku dengan selaannya. Ku rasa ini benar-benar ampuh. Tanpa sandiwara. Dan bukan di dimensi kepalsuan.
“Kalau udah nggak bisa dipake lagi, tandanya udah nggak cocok. Ibaratnya, kamu terus tumbuh, dia diem aja. Udah ngga bisa satu, soalnya udah ngga cocok. Kalau udah nggak bisa dipake lagi, tandanya udah bener-bener kekecilan. Itutuh nanti yang bikin rasa nyaman tiba-tiba hilang. Meskipun ditarik biar molor ya tetep aja, udah beda.”, ucapku. Kali ini senyumku benar-benar tak tertahan. Begitu juga air mata. Sungguh, bukan yang aku harapkan. Lalu, aku tertawa. Sedikit ada paksaan disana. Untuk menutupi apa yang seharusnya menjadi biasa saja.
“Kalau udah kayak gitu, udah jadi keharusan untuk cari baju baru. Yang lebih fresh dan yang pasti cocok. Dan paling penting, nyaman dipake. Dan bikin good looking juga, ding.”, tambahku lagi. Dia menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, seolah menyetujui pernyataanku itu. “Tapi cari baju baru nggak segampang orang bilang. Kamu harus tahu jenis bajunya gimana, kualitas kainnya, adem apa enggak, good looking apa enggak, kelihatan kurus atau gemuk dan yang terakhir cukup apa enggak tuh dompet buat beli baju itu.”, tambahku. Dia tertawa kali ini. Entah angin jenis apa yang merasukiku, tiba-tiba aku merasa sangat lega.
“Kalau maunya bertahan sama baju lama gimana?”, tanyanya dengan tatapan ‘bisa bercermin sebentar?’. Aku tertawa kecil. Disusul dengan tawanya.
“Kalau tetep masih sama baju yang lama, coba bayangin, raksasa pake bajunya kurcaci. Bisa sobek tuh baju. Sama kayak kamu kalau pake baju kekecilan, bisa sobek. Dan akhirnya kamu nggak pake baju. Hasilnya? Bajunya rusak, kamu juga nggak pake baju, karena maunya bertahan sama yang lama.”, jawabku santai. Sejauh ini matanya masih menatapku dengan artian ‘bisa bercermin sebentar?’. Sejauh ini aku merasa, dia adalah orang yang sangat mudah ditebak, hanya melalui matanya, semuanya terpancar.
“Kalau udah tahu bertahan sama yang lama, khususnya yang dipaksain bertahan, bakalan bener-bener bikin rugi. Kenapa masih ada yang stuck di masa lalunya, ya?”, tanyanya. Aku diam. Diam dengan sedikit bumbu terkejut. Tapi, dia tertawa. Untuk menyembunyikan terdiamnya diriku setelah ungkapannya sebelum ini, aku tertawa.
“Ohiya, kamu belum cerita. Udah siap?”, selaku diantara tawanya yang ikhlas dan tawaku yang benar-benar dipaksakan.
“Berantem. Biasa. Salah paham.”, jawabnya. Nada suaranya merendah. Aku merasa bersalah menanyainya hal yang membuatnya berubah derajat, dari dia yang tertawa lalu seperti ini.
“Um....Okay........Aku mau denger, tapi kalau kamu ngerasa itu privasi, nggak masalah kok......Jangan sedih ya.......Sabar.......”, ucapku dengan suara merasa bersalah ala kadarnya. “Love when you ready to love”, tambahku. Wajahnya kembali tenang sekarang. Aku memaki diriku dalam hati. Betapa bodohnya aku menghilangkan sebuah tawa ikhlas demi kepentinganku, rasa penasaranku terhadapnya dan juga rasa mati kutu yang ku alami setelah pernyataannya yang menyudutkanku. Bodoh. Egois.
“Ada hal yang bener-bener bikin aku nyaman banget kalau lagi ngobrol sama kamu. Bahkan nyamannya melebihi nyamanku.........ke dia”, jawabnya. Aku tersentak kaget. Kali ini kaget yang benar-benar kaget.
“Whoaaa, nggak bisa gitu dong. Sekarang, kamu hubungi dia, jelasin kenapa bisa salah paham, minta maaf dan semuanya bakal balik....kayak biasanya lagi”, jawabku, lalu dalam hati aku berucap ‘semuanya bakal balik....kayak biasanya lagi, kecuali aku’. Jujur saja, aku senang ketika dia berucap seperti tadi. Tapi aku juga merasa miris sekali, karena ketika ada yang merasa nyaman denganku, begitu pula denganku, kita tak akan pernah satu.
Dia mengangguk pasti. Lalu menatapku lembut sekali. “Aku pulang dulu, ya.”, ucapnya. Aku membalasnya dengan anggukan riang.
“Kembalilah waktu kamu lagi butuh aku.”, aku tersenyum. Ia membalasnya dengan senyuman bingung, aku tahu dia akan segera bertanya ‘apa maksudmu’ tapi aku bergegas memalingkan tubuh dan langsung repot dengan air mata yang luruh tanpa permisi.
**
Setelah percakapan abstrak itu, kamu tiba-tiba menghilang. Sepertinya kamu memulai perjalanan barumu ke atmosfer itu. Membuka cerita baru, pastinya dengan dia yang bukan aku. Atmosfer itu sepertinya benar-benar bermakna untukmu. Dan untuk kedua kalinya, dengan sadarku, muncul lagi tekad indah itu. Tekad untuk terus berjalan tanpamu. Tekad untuk tak mempedulikanmu. Bulat sudah.
Hari-hariku tampak biasa saja sekarang, tentunya hari-hariku tanpamu. Walaupun hanya tampak saja. Matahari dan hujan juga begitu. Matahari muncul dengan sinarnya dan hujan muncul dengan rintiknya. Seolah biasa, tanpa hambatan. Penduduk langit mulai tenang disana. Walau sebenarnya antara keduanya terjadi perselisihan rahasia.
Hujan juga sudah membulatkan tekadnya untuk ikhlas. Hujan perlahan merelakan keberadaannya. Karena hujan tahu, siapa dia sebenarnya. Dan bagaimana sebenarnya kedudukannya. Ia hanya sebercak noda disela kehidupan manusia. Yang datangnya terkadang mengganggu aktivitas mereka. Sedang matahari?, siapa yang berani bertaruh tiada satu pun yang mengeluh akan keberadaannya, walau terik sekalipun mereka tetap dapat memaklumi. Kemungkinan hanya akan ada beberapa kata saja ‘Aduh, panas sekali hari ini’, terkadang ada juga ‘Ampun, neraka bocor’. Bedakan dengan keberadaan hujan. Terkadang orang memakinya. Mengatakan kata-kata tak sepantasnya. Mengumpat dalam hati. Orang juga merasa dalam posisi bahaya saat hujan datang. Bahkan hujan sering disebut sebagai pembawa sial. Padahal mereka sering sekali bertatap pada hujan dan menceritakan segalanya.
Hujan berposisi sama denganku. Tidak diinginkan. Tetapi masih saja digunakan sebagai wadah untuk dia menceritakan keluh kesahnya. Sedang aku adalah seorang manusia yang dipenuhi dengan berjuta-juta sel dengan perasaan tersendiri. Aku sudah ikhlas. Ikhlas karena memang keberadaanku hanya sebagai wadah untuk cerita-ceritamu saja. Ikhlas karena sekarang saatnya tekad itu tak berubah, tetap bulat begitu saja. Tak menjadi segi-segi aneh yang lain.
Bumi memang terus berputar. Sang waktu juga terus berputar. Siang dan malam masih saja bergantian. Langit yang cerah dan langit penuh bintang masih seimbang. Angin masih sama. Tak ada petir sama sekali. Matahari terus bersinar. Sang hujan pergi sekarang. Meninggalkan semuanya. Karena sekarang keberadaannya sudah harus digantikan oleh matahari. Iya, musim kemarau lagi. Mungkin di lain atmosfer, hujan akan mendapati tempatnya lagi.
Berjuta-juta detik terlewati perlahan. Kamu masih sama, mungkin kali ini kamu benar-benar nyaman disana. Di atmosfermu itu. Atau pesawat yang kamu tumpangi untuk menuju atmosfer itu sedang rusak atau terjadi gangguan. Sehingga kamu harus berlama disana. Banyak sekali kemungkinan ketidakhadiranmu kali ini. Tapi aku sadar, aku harus tetap melaluinya. Aku sadar, kamu memang bukan untukku. Aku sadar, selama ini aku hanya berada diatas lapisan ketidaksadaranku saja. Aku sadar.......bahwa aku hanya sebatas dia, sebelum dia menjadi kekasihmu.
**
Hujan dan matahari tidak akan pernah berhenti. Dalam sebuah siklus, mereka akan saling bertukar posisi sampai Tuhan menghendaki semuanya berhenti. Walaupun saat keadaan saling bertukar itu kebanyakan matahari memperlakukan hujan sebagai hal yang tidak diinginkan, tetapi siklus tetap siklus.
Mungkin sama halnya dengan aku dan kamu. Entah sekarang kita sudah berhenti atau akan berlanjut. Karena kita ada dalam sebuah siklus, dimana kamu dan dia ada disana sedang aku disini meratapi keberadaanku sendiri.
Mungkin semua ini hanya kemungkinan belaka. Tanpa ada kejelasan seperti apa keadaan sebenarnya. Tapi tidak ada yang tidak mungkin selama penulis menjadi Tuhan dalam kisah-kisah yang ia tulis.

Ini tentang hujan dan matahari
Dua insan yang sedang mengitari bumi
Mengarungi derasnya badai
Melewati jutaan mimpi

Hanya tentang hujan dan matahari
Sebagai metafora sebuah mimpi
Bukan aku dan kamu yang sedang mencari
Sebuah tempat untuk disinggahi

Ketika bumi berhenti
Memanggil semua insan dalam bumi
Semuanya berhenti
Hujan dan matahari turut prihatin

Aku dan kamu berhenti mencari,
Berhenti mengarungi,
Berhenti menjelajahi mimpi
Lalu semuanya pergi tanpa permisi


Selasa, 17 Juni 2014

Pilihan


Selamat malam beberapa orang di luar sana, yang sempat membaca dan sempat ingin membaca ini. Dan semua orang yang sudah muak dengan semua ceritaku. Ya, ya ya, aku naif sekali, aku memang menginginkan kalian membacanya, ya semua penulis amatir memang selalu ingin tulisannya dibaca, bukan?.
Selamat malam juga untuk kamu disana, yang mungkin, baru saja hanya membaca pesanku, ciye, kamu kira aku tukang koran?.
Selamat malam kalian semua, selamat malam kamu, selamat malam hatiku yang telah mati.
‘Kamu’ yang aku maksud, sudah bukan ‘Kamu’ yang dulu-sempat-aku-deskripsikan, kamu yang sekarang adalah, seorang yang benar-benar mengisi ruang ini setelah tiga-tahun-sudah aku menanti sosok seperti ini.
Iya, kamu yang baru saja hanya membaca pesanku. Istilahnya. Ciye cuma di read.

**
Genap sebulan sudah aku menahan sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang ini. Padahal aku tahu, sejak beberapa bulan yang lalu, kita memang sudah dekat, dan dekat sekali menurutku.
Tapi, dekat yang aku maksud adalah, ya kita memang dekat karena kita bertemu setiap hari, dan ada kemungkinan bahwa kamu dan aku bertukar pesan, ok, u can call me dramaqueen now.
Kita, eh salah, aku dan kamu memang sudah sering bertukar isi pikiran, dan ya, hampir setiap hari, tapi ya nggak sesering tiap hari juga. Dan berhari-hari itu juga aku sudah memberimu banyak sekali kode-kode yang tidak mudah dipecahkan.
Tapi kamu juga tetep aja kayak gini, biasa dan ya, meniadakan aku. Maksudku, kamu membuatku merasa ‘invisible’, tidak terlihat, tidak tampak, ya itu punya arti sama dengan meniadakan aku...
Saat beratus-ratus kode aku ucapkan, tetap saja, kita tidak bercengkrama layaknya seorang yang sedang memiliki sebuah hubungan atas dasar kode.
Kita, hm, kita cuma temen. Cuma temen. One more. Kamu dan aku cuma, temen.

Aku mendengar beberapa cerita sebelum ini. Ini adalah salah satu cerita terbaik tentang ‘friendzone’, dari seseorang yang sudah mengalaminya baru-baru ini tapi benar adanya, intinya, cerita ini adalah fakta, dan cerita ini berupa sebuah curhat yang sangat panjang. Bahkan akan menyebabkan kebosanan. Let’s read.


Baru-baru ini, aku merasakan sebuah hal terjadi padaku, yang aku sendiri tidak dapat mengartikannya.
Aku, yang dulu, benar-benar dont care about what people said, tiba-tiba berubah menjadi seorang yang ‘perasa’ dan ‘mudah tersinggung’. Aku sendiri, tidak mengetahui penyebab hal itu.
Baru-baru ini juga aku merasakan, aku orang paling invisible di dunia. Oke, itu berlebihan.
Aku juga merasakan ada setetes air mata turun ketika beberapa orang yang aku sayangi mulai menyakitiku. Oke, ini juga berlebihan.
Dan aku mulai menjadi seorang yang.....selalu merasakan keberadaanmu.

Menjadi orang peka, tidak seenak yang semua wanita harapkan pada lelakinya.

Menjadi orang peka memiliki resiko besar.

“halo”, tiba-tiba ponselku bergetar, terdapat sebuah pesan masuk.
Aku tersenyum pasi, “pasti bakalan cerita tentang gebetanmu, kan?” balasku.
“Iya, aku lagi galau”, lalu pesan-pesan itu berlangsung sampai keesokan paginya. Dan itu berlangsung beberapa kali, sampai sudah berulang-ulang kali aku menghapus pesan panjangnya itu.
Dan pada suatu titik.
Yaampun. Aku baru sadar, mengapa saat dia menceritakan tentang apa yang dia sebut sebagai gebetan itu membuat beberapa unsur dariku seperti lepas begitu saja. Rasanya seperti, kalian menancap gas kencang kemudian melepaskannya dengan begitu saja. Kaget, dan ya, sedikit sakit. Tapi aku nggak tahu apa yang aku sadari ini.

Aneh.

Aku sudah mulai lupa, lupa cara jatuh cinta, lupa cara sakit hati. Dan lupa gimana cara suka sama orang, dan suka yang benar-benar suka maksudnya.

Aku lupa.

Setelah pesan-pesan itu, aku jadi mikir, kamu tegar juga ya, hehe, kamu keren bisa nahan semua perasaanmu, nggak kayak kebanyakan cowok.

Dan di kemudian hari, kita jauh lebih deket, banyak hal yang bikin kita makin deket, dan aku ngerasa, aku nyaman...
Aku nyaman di deketmu, aku nyaman dengerin ceritamu tentang ‘dia’, aku nyaman jadi kaki bantu buat kamu, biar kamu tetep bisa berdiri waktu, ‘dia’ nyakitin kamu.
Aku ikhlas ngelakuinnya, dan aku nyaman. Dan aku anggep kamu lebih baik dari seorang teman..........
Tapi kamu tetep kayak gini.
Biasa aja, dan kamu anggep aku cuma, temen.

Aku juga sadar. Aku ga boleh terlalu berharap.
Dan banyak orang bilang ‘dont expect too much

Sekarang aku sadar dengan apa yang aku rasakan.

Saat aku dalam proses mencari, proses move on, kamu dateng, dan kamu tiba-tiba nyelundup masuk gitu aja ke hatiku dengan semua ceritamu.....
Karena aku tipe yang gampang luluh, aku respect-nya lebih ke kamu...
Dan, makin kesini, perhatianku, respectku, careku ke kamu kok makin besar, dan makin aneh rasanya.

Aku mulai sadar, kamu ada waktu aku lagi butuh orang lain untuk move on.....

Tapi aku juga sadar, kamu nggak akan pernah bisa jadi orang yang bakal jadi pelabuhan baruku, atau tempat move onku.

Aku sadar,
Aku sadar sebelum aku berharap lebih ke kamu...

Kamu ada saat aku merasa hilang.
Kamu ada saat aku perlu.
Kamu ada saat aku sedih.
Kamu ada.
Dan selalu ada.

Tapi ada dia, kamu sayang banget kan sama dia...
Dan kamu nggak pernah anggep aku lebih.

Aku tahu. Aku mulai jatuh cinta sama kamu.

Aku memilih untuk mendengarkan semua ceritamu tentang dia, seorang gadis yang aku nggak pernah tahu dan nggak pengen tahu.
Aku berkali-kali bilang, she is not treat you right. Dia nggak memperlakukan kamu dengan baik, bukan berarti aku merasa I treat you right.
Dan kamu juga sadar, kalo dia nggak baik buat kamu. Tapi kamu tetep kokoh sama keputusanmu, buat nunggu dia. Ya, aku bisa apa?
Mungkin, ini friend-zone, atau parahnya, curhat-zone.

Aku bisa apa, saat kamu, memilih dia, yang jelas-jelas bukan aku?

Kalo aku berani bilang, aku nggak rela, aku pasti bilang.

Tapi, rasanya kok susah banget.

Sebenernya, aku yang mempersulit keadaan ini, karena, ya, aku masih trauma dengan beberapa kisah itu. Bahkan, sekarang, jelas-jelas aku tahu, kamu beda, aku masih aja trauma sama hal-hal ga penting itu.

Dan beberapa hari ini, banyak sekali orang yang seperti menunjukkan apa yang aku rasa.
Ya, aku bisa apa? Mengelak? Nyatanya, ya enggak. Mereka benar. Dan semua yang mereka tunjukkan itu benar adanya.

Tapi, aku tetap aku. Beribu-ribu pilihan menyakitkan ada untukku. Dan semenjak beberapa pertunjukkan perasaan itu, ada dua pilihan di hidupku, sekarang.

Pertama, aku harus menghilangkan atau menahan perasaanku, dan bergerak seolah semua tidak pernah terjadi, dan kamu akan tetap baik-baik saja, dan tetap menceritakan semuanya kepadaku. Dan aku-dan-kamu tidak akan pernah jadi kita. Ini berarti, aku akan menahan perasaanku, sakitnya ketika kamu bercerita panjang lebar tentang dia, sakitnya ketika aku hanya dianggap teman, yang pada nyatanya, kamu segalanya buat aku.
Kedua, aku tetap bertahan dengan perasaanku, tanpa ada kamu. Kalian paham? Maksudku, aku tetap bersikeras untuk mencintai dia, dan dia pergi begitu saja. Lalu, siapa yang aku cintai?. Dan, hilang sudah kedekatan diantara kita. Ini berarti, aku akan menjadi budak perindu, yang akan selalu mengikuti rinduku untuk kamu.

Sekarang, aku harus benar-benar memilih, seperti apa perasaan yang aku mau, dan bagaimana aku harus menyikapinya. Karena semua pilihan itu memiliki resiko besar sekali. Sangat besar hingga aku malas untuk menjelaskannya.

Pada akhirnya, menurutku, pilihan pertama lebih indah. Karena, kita masih deket kan? Jadi resiko untuk ‘ditinggal’ saat perasaan kita di ujung itu nggak ada. Tapi resiko buat nahan perasaan juga bakalan ada. Kalo sekarang aku bilang, apapun resikonya, jauh lebih baik aku masih deket sama kamu daripada harus ditinggal waktu perasaanku lagi di ujung.
Minimal, ada kata ‘lebih baik’ disitu.

Ya diakhir kisah, aku cuma bisa bilang.

Jangan lagi deh.

**
Well, cerita itu nggak buruk-buruk juga. Aku suka, dan aku menyelami cerita itu. Ya, as long as you life, sometimes, there was a hurt between a happiness.

Selalu, karena tersakiti sama kesenangan, itu sudah sepaket.
Sepaket yang nyakitin ya.
Sama kayak aku sama kamu.
Kalo jalan terus ya lama-lama nyakitin.
Kamu seneng.
Aku sakitnya.

Emang, nggak adil buat aku. Tapi buat dia, fine-fine aja. Yah, namanya juga hidup.

Tentang friendzone tadi,
Sebenarnya, itu bukan cerita orang, karena itu ceritaku. Iya, baru aja kejadian.
Dan sekarang, aku harus sok-tegar lagi di depan semua orang, dan menganggap, everything fine. Padahal ada pain dibalik fine.

Sebenernya, aku bahagia-bahagia aja waktu kamu nyeritain tentang dia, sungguh, sangat bahagia, karena tandanya, kamu sudah percaya sama aku, jadi kamu cerita tentang dia.

Cuma sakit aja gitu.

Tapi buat apa aku ngomong sakit ke kamu, ketika kamu aja sakit waktu nyeritain tentang dia?

Aku rela sakit hati, karena itu juga termasuk latihan sakit hati, ea. Latihan.....

Well, as you know, kadang hidup maksa kita buat show off your heart, show off how you feel, but sometimes, kita juga harus bisa nerima saat apa yang kita tunjukkan ga ditoleh sedikitpun sama orang itu.

Hahaha. Aku lucu banget. Yang disakitin justru masih bisa bilang kayak gitu?. Gak, aku emang naif. Bahkan munafik? Ah enggak.

Dan diujung cerita tadi, itu semua tentang pilihan, tepatnya pilihanku. Dua pilihan yang berat, semuanya memiliki lebih kurangnya masing-masing. Dan ketika aku mengucapkan pilihanku jatuh pada pilihan pertama. Aku akan berusaha untuk melakukannya. Sakit? Apa sih di dunia ini yang gak nyakitin?

Pilihan, ya ya ya. Banyak orang yang bilang, hidup tentang pilihan, berarti kalo nggak milih, berarti ga hidup?, oke, aku sudah memilih.

Sekarang tinggal gimana aku nyikapin pilihanku. Nyiapin kesiapan buat lebih sakit hati pastinya. Ah, aku sudah terlatih sama hal-hal yang nyakitin.

Dan walaupun diujung tadi, kisahku belum selesai, dan aku nggak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, doaku tetep baik kok buat kamu.

Tapi, nggak bisa dipungkiri,


Cinta emang kampret.


Kamis, 15 Mei 2014

Bunga Tidur

Di depan cermin, Sabtu pagi. Aku terpaku melihat bayanganku sendiri. Mata sembab itu masih sama, warna dan ukurannya pun masih sama. Apa samanya orang yang membuat sembabnya mata ini, mempengaruhi?
Baru kemarin aku menikmati beberapa cerita di Wattpad. Yang paling aku ingat, cerita itu sama persis dengan apa yang aku alami. Bukan maksud untuk melankolis, tapi jujur saja aku bisa merasakan kepedihan tokoh utama disana dan berkata pada diriku ‘jadi dulu aku kayak gini’.
Semua kisah sama aja ya.
Stranger-kenal-deket-makin deket-pacaran-mesra-tengkar-renggang-putus-stranger.

Tapi sebenarnya, tulisanku kali ini, aku sedang mengapresiasikan mimpiku semalam.
Bukan menjelaskan apa yang terjadi di dalam cerita itu.

**
Orang bilang, wanita yang suka minum Black Coffe tanpa gula adalah orang gila.
Sedangkan beberapa pagi di minggu ini, aku sangat mencintai Black Coffe, tanpa gula. Dan itulah sebab aku terjaga malam tadi.
Menurut buku psikologi yang aku baca, orang yang patah hati cenderung tidak menyukai minuman/makanan yang manis.
Sepertinya, itu benar untukku.
Dua tahun ini, aku membenci hal yang terlalu manis. Selain untuk program dietku-_-
Aku selalu protes jika ibu membuatkan teh pagiku terlalu manis dan kental. Begitu juga dengan kopi-kopi yang biasanya ibu buatkan.
Aku pecinta kopi. Apalagi, Black Coffe.

Sore hari, keadaan memang sendu, langit gelap dengan terpaan warna orange yang indah. Di jendela kamar yang cukup luas, aku duduk. Menanti terpaan orange itu pergi. Aroma kopi yang sangat kental membuatku sedikit mual. Tapi entah, aku tetap menyukainya.
Menyesap kopi itu memiliki arti.
Sesapan pertama, akan terasa pahit dan batinmu akan berbicara untuk tidak meminumnya lagi.
Tapi ketika kamu mempertahankan rasamu, pada sesapan kedua, akan sedikit berubah rasanya, menjadi sedikit sejuk di tenggorokan.
Pada sesapan ketiga, kamu akan merasakan, semuanya hanya pada kopi itu.
Pada puncaknya, sesapan keempat, otak akan merasa segar, dan yang aku rasakan, aku seperti terlahir kembali.
Ketika kamu berhenti menyesapnya, tenggorokanmu akan terasa lapar dan ingin merasakannya lagi.
Selesai dengan kopi.

Aku menyesap sisa kopiku, dan menghirup nafas dalam-dalam.
Sekarang, terpaan warna orange di langit itu belum pergi, justru lebih menampakkan warnanya.

Orange. Warna perpaduan merah dan kuning. Kuat dan lemah. Seperti kamu dan aku. Yang dulu disebut Kita.
Aku masih sama bukan? Apapun yang terjadi, selalu saja bisa menghubungkan itu dengan, apa yang disebut ‘kita’ dulu.

**

Tentang mimpiku semalam.
Tentang sosok yang selama ini sangat sering datang di dalam mimpi.
Tentang kamu, yang sampai saat ini masih saja berlari di pikiranku.

“Kamu apa kabar?” tanyanya. Tampak indah dari sini dua orang sedang bertatapan satu sama lain. Lelaki itu tidak tampan, hanya saja, ia memiliki beberapa kharisma indah, dan yang wanita, hanya biasa saja dengan rambut terurainya.
“Baik kok, tapi sebelum kamu pergi, sekarang sih, beda.”, jawabku santai.
“Dua tahun lalu?, Ya Tuhan, itu sudah berlangsung sangat lama.”, ia jauh lebih santai dari ucapanku tadi. Lalu ia tertawa, kali ini aku yang berucap ‘Ya Tuhan’, tawamu masih seindah dulu, serenyah dulu, dan kamu semakin indah.
Tapi, seperti mendapat hantaman keras. Ia menertawakan apa yang seharusnya tidak ditertawakan. Keadaanku saja membuatmu tertawa, bagaimana dengan perasaanku?.
“Waktu itu kan aku sudah bilang selamat tinggal.”, tambahnya. Aku diam saja.
Mendengarnya mengucapkan selamat tinggal, uh menyakitkan saja, jauh lebih menyakitkan. Ia memperjelas selamat tinggalnya, sampai pendengaranku enggan untuk mendengarnya lebih jauh.
Aku mengangguk saja. Dan suasana menjadi hening.
Terkadang ada hati yang nggak selamat waktu diucapin selamat tinggal, hati itu, hatiku”, balasku, aku tersenyum kepadanya.
Ia menggenggam tanganku, semuanya seperti seolah-olah berhenti, angin, udara, semuanya! Hanya ada aku dan kamu. Genggamanmu, masih sama, masih saja datar dan seperti heroin yang membuatku ketagihan.
“Izinin aku bahagia, dan dibahagiakan, lupain aku.” ucapnya.
Ucapnya yang terakhir.

Lalu samar-samar bayangannya pergi.

Jauh sekali, ingin aku mengejarnya tapi seberkas sinar membangunkanku.

Oh sudah pagi.

Jadi, dulu, waktu aku sama kamu, kita, aku nggak bisa buat kamu bahagia ya, dan dibahagiakan?

Kamu ingin aku melupakanmu?
Kamu pikir,
Aku sekuat itu?
Kamu pikir,
Aku sebisa itu?
Kamu pikir,
Semudah itu?
Kamu pikir,
Semua kenangan yang selama ini ada,
Semua harapan yang selama ini ku rangkai,
Semuanya, hati, jiwa, waktu, perasaan,
Lalu, semudah itu kamu bilang ‘lupain aku’.

Aku bodoh apa kamu nih?

Kamu gila.
Benar-benar gila.

Dan aku jauh lebih gila.

Dua tahun aku berharap aku dan kamu bisa jadi kita, bahkan bulan depan, genap sudah tiga tahun aku menunggu.
Waktu. Perasaan. Pikiran. Hati. Masa indahku. Kamu sudah hancurkan itu.
Semuanya.
Kalau kamu baca ini pasti kamu bakal bilang ‘siapa suruh kamu nunggu’, hahahahahahaha.
Well, emang nggak ada yang suruh aku nunggu kamu selama ini.

Sudah pernah denger, beda di mulut beda di hati?
Aku banget.

Aku nggak nunggu kamu. Tapi hati aku iya. Nurani aku iya.


Bunga tidur ya, katanya indah, katanya.
Aku terlalu berharap lebih dari ‘katanya’.

Kalau mimpiku tadi, itu jenis bunga apa?

Atau sudah pantas itu disebut, Mimpi buruk?
Tapi kamu nggak pernah buruk di mataku. Yang sudah buta dengan keindahanmu.

Jumat, 18 April 2014

kangen?

Malam ini sebenarnya bukan termasuk malam sendu, bukan juga malam pilu. Tapi malam ini sepertinya beberapa pikiranku terpaku padamu, lagi. Sebenarnya bukan beberapa, tapi semua.
Malam ini tidak hujan, tidak juga berangin, tapi pikiran, hati, dan mataku merasakan hujan dan berangin. Iya. Seperti itu. Mengerti? Oh, ku perjelas, menangis.
Karena pikiranku sudah basah, mungkin sekarang aku harus memerasnya habis-habisan agar cepat kering.
Iya dengan merangkai kata, untukmu, lagi.
Emangnya ada selain kamu?
***
Kembali pada skenario itu ya, skenario Tuhan maksudnya. Dengan tulisan ‘tentangmu’ itu sepertinya mengawali rasa ini.
Setelah dua tahun berlalu, atau mungkin sekarang adalah dua tahun lebih 10 bulan, almost three years, aku menunggumu. Dan mungkin tiada puncak untukku menunggumu, yang artinya, tidak akan pernah ada kata berhenti. Karena dua garis sejajar itu tidak akan pernah bertemu di satu titik dan dapat diperpanjang sebagaimana hingga. Proyeksikan itu kepadaku. Maaf, math effect.
Playlistku sekarang, Like We Used To. Sebenarnya bukan hal penting, tapi ini berawal dari lagu ini.
Selamat malam, ini aku yang selalu menunggumu.
Dulu, waktu aku dan kamu disebut kita.
Semua yang kita lakukan adalah indah. Entah itu salah atau benar, tapi itu selalu saja indah. Salah. Dan benar-benar salah.
Semua hal yang rasional dilakukan bersama. Rasional untuk anak usia 12 tahun.
Sedih, bersama. Senang, bersama. Nangis? Aku sendiri sih.
Dulu, aku sangat menginginkan ucapan ucapan mesramu. Sekarang? Aku masih menginginkannya.
Kalo kataku, aku selalu menginginkanmu.
Dulu, kita adalah cinta. Cinta yang pernah tumbuh. Lalu menghilang.
Sekarang. Setelah tiga puluh empat bulan apa yang disebut kita, sudah ngga ada.
Aku masih terpaku sama kamu.
Kamu? Sudah pergi dengan yang lainnya.
Sebenarnya, aku tidak memaksakan cinta, tidak memaksakan aku harus memiliki.
Hanya saja, menghilangkan rasa ini seperti harus hidup selama-lamanya. Impossible.
Dan sekarang, hari ini, jam ini, detik ini.
Aku melayang, seperti burung yang bisa terbang ke masa lalu.
Memperhatikan ‘kita’ yang sedang bertatapan satu sama lain. Yang tak terasa, bulir ini turun dan meluruh sesuka hatinya.
Bertatapan satu sama lain. Everyday we do. If we meet. So hell yeah.
Sekarang aku harus menatapmu bertatapan dengan orang lain yang bukan aku.

Dan sepertinya.
Aku merindumu.
Merindu semua tatapanmu.
Dan semua tentangmu.

Jadi, ini toh kangen?
Sebegitu menariknya, dan menyakitkan ya ternyata.
Apalagi, yang aku kangenin adalah. Kamu.
Yang jelas-jelas sudah berkangen-kangenan dengan yang lain, yang bukan aku.

Kangen sama orang yang sudah jadi milik orang lain.
Lucu, tapi tetep aja ngenes.

Apa aku masih ga rela sih?
Apa aku masih belum bisa lepas dari kamu?
Apa aku juga belum bisa berhenti menatapmu?

Puncak kangenku, adalah hari ini.
Hari dimana semuanya datang lagi tanpa aku menyuruhnya.

Sebenarnya aku berharap ini adalah city of dream, but im not sleeping now.

Lagi-lagi, ini tentang kamu.
Tentang perasaan rinduku untukmu.
Bukan pertama aku merasa rindu. Tapi ini yang terhebat.
Aku akan merindumu, walau tiada balasannya. Dan tidak akan pernah aku menyebutnya rindu yang tak terbalas. Karena masa bodoh dengan balasan itu.

Kangenku, sekarang ke kamu.
Kamu, kangennya sama dia.
Dan aku tetep kangen kamu.
Terus? Apa kamu gabisa kangen aku?
Eh lupa, buat apa kamu kangen aku.
Iya, sudah ada the gold woman kan sama kamu.
Oiya semoga the gold womannya ga senasib lah.
Biar, dia ga ribet ngelupain kamu. Kayak aku.

Jadi? Apa tanggung jawabmu sama rasa kangenku?
Apa kamu bisa ngilangin rasa kangenku hari ini?
Atau minimal, kamu bisa bikin aku, ngga sia-sia ngangenin kamu.
Percuma kan?
Aku ngomong sama kertas lagipula.
Jadi kamu juga ga akan tau dan ga akan mau tau.
Tapi tenang aja,
Kangenku masih buat kamu.

Selamanya


Kangenku buat kamu.

Sabtu, 12 April 2014

Tentangmu.

Ribuan hujan perlahan pergi. Mereka sangat hebat mengembalikan beberapa memori.  Ah memang benar, hujan punya zat yang bikin seseorang kembali ke beberapa memorinya. Tapi kenapa masih banyak yang bilang ‘itu sugesti’, oh mungkin mereka berhasil menemukan pelanginya, sedang aku tidak.
Malam ini, dengan mata sembab, dengan keadaan terisak yang tidak jelas, dengan semerbak harum tanah yang terpoles hujan, aku mencoba mengingatmu, di dalam beberapa kalimat dan menjadikannya lembaran. Lembaran kusam. Yang tak akan pernah terjamah olehmu.
Iya, kamu.

**
Dia indah. Mungkin dia yang selama ini aku nanti. Tidak dapat dipungkiri. Aku mencintai dari kekurangannya.
Remember that? Pertama kali melihatmu adalah saat dimana terdapat kerusakan fisik di tubuhmu, dan seketika itu pula, aku iba, dan aku merasa mengikuti alurmu. Tak hentinya mataku memperhatikan kemana kamu. Saat melihatmu, aku cuma bisa gigit jari karena dua alasan, pertama kamu menarikku ke dalam alurmu, kedua, kamu miliknya.
Iya, mendengar kamu miliknya sebenarnya bukan hal berat untukku. Karena kamu selalu indah. Dan apapun kesalahanmu, tetap saja aku menganggapmu indah. Bodoh? Bukan, aku buta. Aku buta karena keindahanmu.
Beberapa hari itu aku mengamatimu, aku menjadi, secret admirermu, yang saat itu aku belum sadar bahwa, aku diam-diam mencintaimu.
Mataku ini, tidak, aku tidak sepenuhnya menyalahkan waktu karena pada saat itu mata&batinku juga menikmati indahnya kamu, dan renyahnya tawamu. Lihat? Aku saja bisa merasakan tawamu.
Tapi sepertinya, pengamatan itu bukan berarti membuat kamu bisa ‘melihatku juga’. Kamu tetap bersamanya, dan aku tetap bergeming padamu. Bukan masalah.
Beberapa bulan setelahnya, entah apa yang menyebabkan kedekatan kita, aku juga tidak mengerti sampai saat ini. Yang aku ingat hanya, selama sebelas bulan itu, kamu ada, dan aku ada. Dan kita sama-sama sadar kalau kita deket.
Oh ya tuhan, ingin sekali aku bersamanya. Iya, itulah pertama kali doa yang terselubung di dalam solatku, doaku untukmu, untuk pertama kali.
Saat itu, aku berharap, aku dan kamu bisa jadi kita.
Tapi sayang, karena dia, aku dan kamu ngga akan pernah jadi kita.
Bukan maksud aku ingin merusak dia dan kamu. Sungguh.
Ini juga untuk dia, seorang yang dulu sangat tulus mencintaimu. Maaf.
Aku mencintaimu, dia juga, tapi dia menyerah, dan aku menang. Benarkah? Tidak. Aku benar-benar tidak pernah merasa menang atas kekalahanmu mendapatkan dia, percayalah.
Baik, selanjutnya.
Sebelas bulan kedekatan kita.
Aku merindukannya. Merindukan saat-saat bahagia aku dan kamu. Dalam sebuah pesan dan itu indah. Seindah kamu.
Bodoh. Aku bodoh karena sudah merasa kamu milikmu.
Semua pesanmu, semua ucapanmu, masih ada disini. Masih ada bersamaku. Dan aku tetap menganggapnya indah walau kamu membuangnya.
Aku merindunya.
Seorang yang setiap pagi mengucapkan selamat pagi dengan instrumen yang indah.
Kamu.
Kamu adalah seorang yang hatiku banggakan.
Dan.
Kamu.
Adalah satu-satunya orang yang selalu, dan akan selalu ku ingat dalam deras waktu.
Aku merindukanmu.
Setiap detik bersamamu, selama sebelas bulan itu, aku merindunya,
Flirt messagemu.
Ya tuhan.
Engkau begitu adilnya, telah memberiku malaikat itu.
Walau aku juga harus melepasnya.

Sebelas bulan itu selalu ada untukku.
Tak ada air mata.
Hanya ada senyum, bahagia, dan indah.
Sebelas bulan tidak cepat.
Dan tidak lama.
Tapi aku menikmatinya.
Iya, aku mencintaimu.

Aku melawan kesendirianku. Denganmu. Melawan kesepian, juga denganmu.
Tapi
Aku juga harus merasa kesepian, karenamu.

Sebelas bulan berlalu. Beribu-ribu pesan dan beribu-ribu senyum aku dapatkan.
Aku mencintaimu.

Di siang hari itu, di bulan juni, di hari sabtu, sebuah tragedi terjadi, mengawali semua tentangku, dan tentangmu, yang akan menjadi, kita.
Dengan basa-basimu, aku mulai percaya padamu, dan berkata bahwa,
Detik ini aku dan kamu akan berubah menjadi kita.
Kamu masih sama.
Masih saja seperti sebelas bulan itu.
Selalu bisa membuat moment yang manis hanya dengan sebuah pesan.
Hanya saja
Ingat bahwa semua melarang aku dan kamu untuk menjadi kita.
Dan ingat bahwa kamu dulu pernah melawan arus ambang putus itu bersamaku.
Karena semua membenci kita.
Dan kita bertahan.
Tapi kamu sudah membenci itu? Baiklah.
Dulu kita bertahan sama-sama, tapi sekarang kamu akan bertahan sama dia, dan aku? Bertahan sama sepiku. Seperti dulu.
Cinta, kangen, sayang, aku sering mendengar kata-kata itu dulu.
Dulu.
Rasa percayaku ke kamu sudah ngga bisa digambarin pake apapun, karena, percayaku ada di kamu. Semua rasa percayaku.
Berhari-hari mengalami kondisi bertahan itu membuatku sadar
Aku benar-benar mencintaimu
Dan
Melepaskanmu butuh waktu yang sangat lama
Bahkan aku tidak pernah membayangkan
Bagaimana aku tanpamu
Dulu, sedihmu adalah sedihku, sebaliknya, sekarang? Aku sedih sendiri kamu seneng sendiri.
Aku mengingatnya, sedetik demi sedetik perjalanan itu. Dan aku masih mengingat sebuah hal yang tidak akan pernah aku lupakan, sebuah hal yang berharga untukku.
Hanya rasa bahagia saat aku menjalani itu denganmu.

Aku mencintaimu
Hingga aku tidak ingin kamu pergi
Aku melakukan semuanya
Agar kamu tidak pergi
Tapi
Aku tak pernah sadar
Apa yang aku lakukan
Membuatmu lelah
Dan
Membenciku
Padahal
Semua itu hanya bentuk
AKU TIDAK INGIN KEHILANGANMU
Tapi kamu tidak bisa menerimanya
Sampai saat dimana keputusanmu untuk meninggalkanku.
Tapi kamu masih indah.
Akan selalu indah.

18 Oktober 2011
Kelima bulan kita bersama
Kamu pergi
Meninggalkan aku
Dengan ucapan yang benar-benar menyakitiku
Memang salahku membuatmu lelah
Tapi
Aku mencintaimu dan tidak ingin kamu pergi
Dengan ribuan pesan sebelum kamu putus, aku punya arsipnya, dan detik-detik saat air mataku meluruh ini, aku punya arsipnya
Dan aku berjanji pada diriku sendiri
Nanti
Ketika aku sudah berumah tangga dan memiliki seorang anak
Ia harus mengetahui itu agar ia tidak pernah melakukan hal yang sama, dan agar ia tidak pernah menangis karena ulah lelaki.
Jadi
Keputusanmu untuk pergi adalah murni kesalahanku
Tapi saat itu
Aku belum sempat mengatakan bahwa
Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu meski kita berpisah.

**
Dan sekarang, aku juga harus menahannya untuk tiga tahun mendatang, menahan perasaan bodoh ini, dan menahan untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu dengan segala tingkahmu yang kamu lakukan, dengan semua kata kebencianmu untukku. Bodoh jika kamu tetap berusaha mengataiku dengan faktamu, karena aku hanya akan membalasnya dengan senyuman.
Sampai kamu sadar
Kalau, tingkahmu itu salah.
Dan beberapa bulan ini ada beberapa instrumen yang menyakitkanku
‘aku khilaf dulu blablablabla’ what the hell with every words u say I LOVE YOU and MY LOVE ALWAYS GROW U KNOW FUCKIN BITCH GO TO HELL
Dan percayalah cintaku tumbuh seiring dengan kebencianmu.
Jadi dulu aku kamu anggep apa
Aku kamu anggep sampah?
Atau pelarian?
Harusnya itu ngga berlangsung lima bulan
Dan kalo emang ngga sayang
Kenapa kamu ngga bilang
Dan langsung mutusin aku saat itu juga
Dan kenapa ITU BERLANGSUNG LIMA BULAN YANG AKU BENAR-BENAR MENGHARGAI WAKTU ITU ASTAGA
Kenapa ada seseorang yang berbuat setega itu dan kenapa itu harus terjadinya ke aku?
Dan baru dua hari yang lalu, sahabatmu mengatakan hal yang lebih jauh membuatku terluka. But you dont want to care with that, bcs i dont care with your knows.
Hanya saja
Aku lelah mengatakan aku mencintaimu saat kamu berusaha membenciku
Sebenarnya
Apasih aku waktu itu
Siapasih aku selama lima bulan itu
Dan kenapa kamu sekarang kayak gini ke aku?
SEBENERNYA KAMU KERASUKAN APA WAKTU KAMU BILANG KAMU SAYANG AKU?
TERUS KENAPA KAMU NGOMONG AKU SAYANG KAMU ITU GA CUMA SEKALI DUA KALI?
Aku trauma.
Trauma sama cinta.
Sampai-sampai aku ngga tau gimana cinta itu
Sekarang yang aku tahu
Setiap aku melihatmu, di lehermu, terdapat kalung yang menyala, dan bertuliskan, bunuh aku.
Karena jujur aku memang benar-benar ingin membunuhmu.
Bodoh dengan julukan psikopat.

Itu masih sedikit kata-kata pahit yang aku tahu, jika ingin melanjutkannya, lanjutkan saja, karena pada akhirnya,
Aku
Tetap mencintaimu
Walau pahit itu selalu ada
Walau rasa ingin membunuhmu sangat besar
Walau kamu tetap bersembunyi di balik temanmu
Cintaku, tumbuh, untukmu.
Dan izinkanlah aku mengatakan ini untuk yang pertama.

Dear, kamu.
Kamu yang selalu aku puja.
Lelaki tampan diidamkan semua wanita. Bisakah kamu tidak berusaha menjauhkanku darimu dengan memberi kata-kata pahit? Oiya, bukankah kamu membenci jamu, itu pahit, iya bukan? Tentu, bayangkan kamu meminum jamu ketika kamu mengucap kata-kata pahit ya, biar mungkin, maaf, otakmu agak sedikit bekerja, dan berpikir, bahwa, kamu bukan segalanya buat aku, jadi, whatever you said sayangku, kamu tetep pangeran yang berubah jadi anjing di depanku. Dan menurutku, bersyukurlah karena belum semua wanita mengetahui bahwa kamu lebih parah dari anjing.
Aku memang mencintaimu.
Tapi aku juga ingin menamparmu dan menjauhkanmu dari kehidupanku.
Ya, semoga.
Tenang saja, kamu selalu ada dalam doaku.
Doaku takkan pernah buruk untukmu. Walau kamu ngga pernah minta didoain, hell yeah yg doa aku kan.
Dan aku sudah sadar, kita sudah berhenti sejak tiga tahun yang lalu.
Semoga doa, semoga kata-kata, semoga ucapan kasarmu, semoga pahit yang dulu aku rasakan, Allah mendengarnya.
Karena aku yakin,
Kasarmu adalah sisi halusmu yang hilang
Pahitku adalah manismu yang pergi
Jadi,
Biar Allah dan kamu yang melanjutkan. Dan semoga ucapan pahitmu segera berhenti, dan semoga aku akan ikhlas menerimanya jika itu akan ada lagi.


Tentangmu.2014.04.12.23:28