Selasa, 17 Juni 2014

Pilihan


Selamat malam beberapa orang di luar sana, yang sempat membaca dan sempat ingin membaca ini. Dan semua orang yang sudah muak dengan semua ceritaku. Ya, ya ya, aku naif sekali, aku memang menginginkan kalian membacanya, ya semua penulis amatir memang selalu ingin tulisannya dibaca, bukan?.
Selamat malam juga untuk kamu disana, yang mungkin, baru saja hanya membaca pesanku, ciye, kamu kira aku tukang koran?.
Selamat malam kalian semua, selamat malam kamu, selamat malam hatiku yang telah mati.
‘Kamu’ yang aku maksud, sudah bukan ‘Kamu’ yang dulu-sempat-aku-deskripsikan, kamu yang sekarang adalah, seorang yang benar-benar mengisi ruang ini setelah tiga-tahun-sudah aku menanti sosok seperti ini.
Iya, kamu yang baru saja hanya membaca pesanku. Istilahnya. Ciye cuma di read.

**
Genap sebulan sudah aku menahan sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang ini. Padahal aku tahu, sejak beberapa bulan yang lalu, kita memang sudah dekat, dan dekat sekali menurutku.
Tapi, dekat yang aku maksud adalah, ya kita memang dekat karena kita bertemu setiap hari, dan ada kemungkinan bahwa kamu dan aku bertukar pesan, ok, u can call me dramaqueen now.
Kita, eh salah, aku dan kamu memang sudah sering bertukar isi pikiran, dan ya, hampir setiap hari, tapi ya nggak sesering tiap hari juga. Dan berhari-hari itu juga aku sudah memberimu banyak sekali kode-kode yang tidak mudah dipecahkan.
Tapi kamu juga tetep aja kayak gini, biasa dan ya, meniadakan aku. Maksudku, kamu membuatku merasa ‘invisible’, tidak terlihat, tidak tampak, ya itu punya arti sama dengan meniadakan aku...
Saat beratus-ratus kode aku ucapkan, tetap saja, kita tidak bercengkrama layaknya seorang yang sedang memiliki sebuah hubungan atas dasar kode.
Kita, hm, kita cuma temen. Cuma temen. One more. Kamu dan aku cuma, temen.

Aku mendengar beberapa cerita sebelum ini. Ini adalah salah satu cerita terbaik tentang ‘friendzone’, dari seseorang yang sudah mengalaminya baru-baru ini tapi benar adanya, intinya, cerita ini adalah fakta, dan cerita ini berupa sebuah curhat yang sangat panjang. Bahkan akan menyebabkan kebosanan. Let’s read.


Baru-baru ini, aku merasakan sebuah hal terjadi padaku, yang aku sendiri tidak dapat mengartikannya.
Aku, yang dulu, benar-benar dont care about what people said, tiba-tiba berubah menjadi seorang yang ‘perasa’ dan ‘mudah tersinggung’. Aku sendiri, tidak mengetahui penyebab hal itu.
Baru-baru ini juga aku merasakan, aku orang paling invisible di dunia. Oke, itu berlebihan.
Aku juga merasakan ada setetes air mata turun ketika beberapa orang yang aku sayangi mulai menyakitiku. Oke, ini juga berlebihan.
Dan aku mulai menjadi seorang yang.....selalu merasakan keberadaanmu.

Menjadi orang peka, tidak seenak yang semua wanita harapkan pada lelakinya.

Menjadi orang peka memiliki resiko besar.

“halo”, tiba-tiba ponselku bergetar, terdapat sebuah pesan masuk.
Aku tersenyum pasi, “pasti bakalan cerita tentang gebetanmu, kan?” balasku.
“Iya, aku lagi galau”, lalu pesan-pesan itu berlangsung sampai keesokan paginya. Dan itu berlangsung beberapa kali, sampai sudah berulang-ulang kali aku menghapus pesan panjangnya itu.
Dan pada suatu titik.
Yaampun. Aku baru sadar, mengapa saat dia menceritakan tentang apa yang dia sebut sebagai gebetan itu membuat beberapa unsur dariku seperti lepas begitu saja. Rasanya seperti, kalian menancap gas kencang kemudian melepaskannya dengan begitu saja. Kaget, dan ya, sedikit sakit. Tapi aku nggak tahu apa yang aku sadari ini.

Aneh.

Aku sudah mulai lupa, lupa cara jatuh cinta, lupa cara sakit hati. Dan lupa gimana cara suka sama orang, dan suka yang benar-benar suka maksudnya.

Aku lupa.

Setelah pesan-pesan itu, aku jadi mikir, kamu tegar juga ya, hehe, kamu keren bisa nahan semua perasaanmu, nggak kayak kebanyakan cowok.

Dan di kemudian hari, kita jauh lebih deket, banyak hal yang bikin kita makin deket, dan aku ngerasa, aku nyaman...
Aku nyaman di deketmu, aku nyaman dengerin ceritamu tentang ‘dia’, aku nyaman jadi kaki bantu buat kamu, biar kamu tetep bisa berdiri waktu, ‘dia’ nyakitin kamu.
Aku ikhlas ngelakuinnya, dan aku nyaman. Dan aku anggep kamu lebih baik dari seorang teman..........
Tapi kamu tetep kayak gini.
Biasa aja, dan kamu anggep aku cuma, temen.

Aku juga sadar. Aku ga boleh terlalu berharap.
Dan banyak orang bilang ‘dont expect too much

Sekarang aku sadar dengan apa yang aku rasakan.

Saat aku dalam proses mencari, proses move on, kamu dateng, dan kamu tiba-tiba nyelundup masuk gitu aja ke hatiku dengan semua ceritamu.....
Karena aku tipe yang gampang luluh, aku respect-nya lebih ke kamu...
Dan, makin kesini, perhatianku, respectku, careku ke kamu kok makin besar, dan makin aneh rasanya.

Aku mulai sadar, kamu ada waktu aku lagi butuh orang lain untuk move on.....

Tapi aku juga sadar, kamu nggak akan pernah bisa jadi orang yang bakal jadi pelabuhan baruku, atau tempat move onku.

Aku sadar,
Aku sadar sebelum aku berharap lebih ke kamu...

Kamu ada saat aku merasa hilang.
Kamu ada saat aku perlu.
Kamu ada saat aku sedih.
Kamu ada.
Dan selalu ada.

Tapi ada dia, kamu sayang banget kan sama dia...
Dan kamu nggak pernah anggep aku lebih.

Aku tahu. Aku mulai jatuh cinta sama kamu.

Aku memilih untuk mendengarkan semua ceritamu tentang dia, seorang gadis yang aku nggak pernah tahu dan nggak pengen tahu.
Aku berkali-kali bilang, she is not treat you right. Dia nggak memperlakukan kamu dengan baik, bukan berarti aku merasa I treat you right.
Dan kamu juga sadar, kalo dia nggak baik buat kamu. Tapi kamu tetep kokoh sama keputusanmu, buat nunggu dia. Ya, aku bisa apa?
Mungkin, ini friend-zone, atau parahnya, curhat-zone.

Aku bisa apa, saat kamu, memilih dia, yang jelas-jelas bukan aku?

Kalo aku berani bilang, aku nggak rela, aku pasti bilang.

Tapi, rasanya kok susah banget.

Sebenernya, aku yang mempersulit keadaan ini, karena, ya, aku masih trauma dengan beberapa kisah itu. Bahkan, sekarang, jelas-jelas aku tahu, kamu beda, aku masih aja trauma sama hal-hal ga penting itu.

Dan beberapa hari ini, banyak sekali orang yang seperti menunjukkan apa yang aku rasa.
Ya, aku bisa apa? Mengelak? Nyatanya, ya enggak. Mereka benar. Dan semua yang mereka tunjukkan itu benar adanya.

Tapi, aku tetap aku. Beribu-ribu pilihan menyakitkan ada untukku. Dan semenjak beberapa pertunjukkan perasaan itu, ada dua pilihan di hidupku, sekarang.

Pertama, aku harus menghilangkan atau menahan perasaanku, dan bergerak seolah semua tidak pernah terjadi, dan kamu akan tetap baik-baik saja, dan tetap menceritakan semuanya kepadaku. Dan aku-dan-kamu tidak akan pernah jadi kita. Ini berarti, aku akan menahan perasaanku, sakitnya ketika kamu bercerita panjang lebar tentang dia, sakitnya ketika aku hanya dianggap teman, yang pada nyatanya, kamu segalanya buat aku.
Kedua, aku tetap bertahan dengan perasaanku, tanpa ada kamu. Kalian paham? Maksudku, aku tetap bersikeras untuk mencintai dia, dan dia pergi begitu saja. Lalu, siapa yang aku cintai?. Dan, hilang sudah kedekatan diantara kita. Ini berarti, aku akan menjadi budak perindu, yang akan selalu mengikuti rinduku untuk kamu.

Sekarang, aku harus benar-benar memilih, seperti apa perasaan yang aku mau, dan bagaimana aku harus menyikapinya. Karena semua pilihan itu memiliki resiko besar sekali. Sangat besar hingga aku malas untuk menjelaskannya.

Pada akhirnya, menurutku, pilihan pertama lebih indah. Karena, kita masih deket kan? Jadi resiko untuk ‘ditinggal’ saat perasaan kita di ujung itu nggak ada. Tapi resiko buat nahan perasaan juga bakalan ada. Kalo sekarang aku bilang, apapun resikonya, jauh lebih baik aku masih deket sama kamu daripada harus ditinggal waktu perasaanku lagi di ujung.
Minimal, ada kata ‘lebih baik’ disitu.

Ya diakhir kisah, aku cuma bisa bilang.

Jangan lagi deh.

**
Well, cerita itu nggak buruk-buruk juga. Aku suka, dan aku menyelami cerita itu. Ya, as long as you life, sometimes, there was a hurt between a happiness.

Selalu, karena tersakiti sama kesenangan, itu sudah sepaket.
Sepaket yang nyakitin ya.
Sama kayak aku sama kamu.
Kalo jalan terus ya lama-lama nyakitin.
Kamu seneng.
Aku sakitnya.

Emang, nggak adil buat aku. Tapi buat dia, fine-fine aja. Yah, namanya juga hidup.

Tentang friendzone tadi,
Sebenarnya, itu bukan cerita orang, karena itu ceritaku. Iya, baru aja kejadian.
Dan sekarang, aku harus sok-tegar lagi di depan semua orang, dan menganggap, everything fine. Padahal ada pain dibalik fine.

Sebenernya, aku bahagia-bahagia aja waktu kamu nyeritain tentang dia, sungguh, sangat bahagia, karena tandanya, kamu sudah percaya sama aku, jadi kamu cerita tentang dia.

Cuma sakit aja gitu.

Tapi buat apa aku ngomong sakit ke kamu, ketika kamu aja sakit waktu nyeritain tentang dia?

Aku rela sakit hati, karena itu juga termasuk latihan sakit hati, ea. Latihan.....

Well, as you know, kadang hidup maksa kita buat show off your heart, show off how you feel, but sometimes, kita juga harus bisa nerima saat apa yang kita tunjukkan ga ditoleh sedikitpun sama orang itu.

Hahaha. Aku lucu banget. Yang disakitin justru masih bisa bilang kayak gitu?. Gak, aku emang naif. Bahkan munafik? Ah enggak.

Dan diujung cerita tadi, itu semua tentang pilihan, tepatnya pilihanku. Dua pilihan yang berat, semuanya memiliki lebih kurangnya masing-masing. Dan ketika aku mengucapkan pilihanku jatuh pada pilihan pertama. Aku akan berusaha untuk melakukannya. Sakit? Apa sih di dunia ini yang gak nyakitin?

Pilihan, ya ya ya. Banyak orang yang bilang, hidup tentang pilihan, berarti kalo nggak milih, berarti ga hidup?, oke, aku sudah memilih.

Sekarang tinggal gimana aku nyikapin pilihanku. Nyiapin kesiapan buat lebih sakit hati pastinya. Ah, aku sudah terlatih sama hal-hal yang nyakitin.

Dan walaupun diujung tadi, kisahku belum selesai, dan aku nggak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, doaku tetep baik kok buat kamu.

Tapi, nggak bisa dipungkiri,


Cinta emang kampret.