Senin, 13 Agustus 2012

BACK TO THE PAST [ RIZKI PUTRI ]


Hujan Dalam Rindu

Aku duduk termangu di dekat jendela kamarku, menatap rintik hujan yang mulai membasahi benda tembus pandang itu. Kembali aku terenyah pada suatu hal yang selalu membuatku bergeming dalam suatu kerinduan. Aku mengingatnya dalam setiap balutan hujan di permukaan ini. Entah sudah keberapa kalinya aku mengingat dia di dalam balutan hujan.
“Andai ragamu masih berada disini, bersamaku, belajar untuk tidak menghukum hujan.” ucapku lirih.

 **
 “Sejak kapan aku berada disini? Tempat apa ini, Tuan?.” ucapku pada Pak tua yang tidak asing untukku. Ia terdiam sejenak.
Pak tua itu mengayunkan tongkatnya dan menatapku tajam. “Tempat dimana sesuatu akan terjadi kembali.” katanya.
“Apa maksudmu?.”
Pak tua itu menarik lengan kausku dan kami berljalan menyusuri sebuah sungai yang sangat asing bagiku. Pak tua itu hanya sesekali melirikku tajam dan memberikanku sedikit senyuman. Entah apa arti lirikan tajamnya.
“Kau suka hujan, nak?.” ucapnya. Aku mengangguk.
“Apa kau selalu menghukum hujan?.” tanyanya sekali lagi. Aku menaikkan alis mataku dan menggeleng.
“Pergilah kesana, itulah kebahagiaanmu.” ucapnya.
Aku meliriknya. “Pak, maaf, aku tidak begitu memahami beberapa kalimat yang bapak ucapkan.” ucapku.
 “Aku tidak begitu paham dengan apa yang terjadi sebenarnya, aku hanya mendapat sebuah rintihan gadis pada hujan” ucapnya. “Pergilah”, ia mendorongku.
Aku tidak mengiyakan ucapannya, tapi aku merasa kakiku seperti melangkah tanpa perintah. Ada apa sebenarnya dengan semua ini, batinku berkata.“Berjalanlah bodoh, jangan bergerak tanpa perintah!”.
Aku berusaha menjalankan beberapa syaraf pada otakku, berhasil. Aku berjalan dengan perintah saat ini. Sesegera mungkin aku ingin mengucapkan terima kasih pada Pak tua itu, ia sudah hilang tidak berada di tempat itu. Batinku kembali berkata, “Siapapun dia, terima kasih”.

 “Geansha?.” panggilnya. Tentu aku merasa terpanggil, karena namaku memang Geansha.
“Ya?.” Aku berbalik badan, dan belum sempat menatapnya.
“Apa kabar?.” tanyanya. Mataku terbelalak begitu saja, Oh Tuhan, Cakka, ya, dia Cakka, lelaki yang selama ini aku rindukan raganya, tanpa kusadari bulir air mataku turun perlahan.
“Kka? Itu kamu?” ucapku lirih. Ia mendekat dan menghapus bekas bulir air mataku. Aku hanya diam, membiarkannya melakukan hal itu. Aku lemah karena sentuhannya, aku lemah, aku benar-benar terhasut oleh rindu. Munafik! Ya aku munafik, membohongi rinduku sendiri.
“Gea, aku merindukanmu.” ucapnya. Aku merasakan genggamannya, genggaman yang semakin lama semakin kuat.
“Aku, aku tidak percaya, kamu sudah tiada.”, ucapku. bulir air mataku semakin deras, seperti hujan yang menghantui rinduku.
Ia memelukku dengan sentuhan abadi “Salahkah aku jika aku ingin kembali? Sudahlah, ini hanya sesaat, setelah itu aku tidak akan mengusikmu” ucapnya. “Izinkan aku bertahan dengan keadaan seperti ini, lima menit saja” tambahnya. Aku terdiam dan meletakkan tanganku di pundaknya.
“Aku benar-benar merindukanmu” ucapku. “Hujan itu, saat detik-detik kamu pergi, dia teman yang setia, aku mengingatmu dalam bulir hujan itu, dalam kerinduan yang tidak terkalahkan, aku mencintaimu” ucapku. Aku tersenyum melepaskan pelukannya. “Pergilah, itu ketenanganmu, disana, kita berbeda Cakka, but I love you more than thousand years, aku mengenangmu sepanjang keabadianku” tambahku. Ku lihat ia menatapku seolah aku seorang bidadari. Ia berlalu, pergi meninggalkanku dengan satu kecupan di keningku.
“Tuhan, itu indah, pertemuan ini singkat tapi rinduku mengombak, terima kasih Tuhan” ucapku. Senyumanku melebar. Aku tidak menghapus bekas bulir air mataku, aku membiarkannya, aku akan menunjukkannya pada hujan, aku telah bertemu dengannya.

**
“Gea… Sadar Gea!!” teriak seseorang di telingaku. Mataku membuka dengan perlahan. Ku lihat beberapa orang mengerumuniku, Dea, saudara kembarku, Theofanny, sepupuku, dan Mommy. Aku melihat mereka.
“Syukurlah, kamu sadar, hujan itu terlalu kejam untuk membuatmu tidak sadarkan diri.” ucap Mommy. Ia mengecup keningku. “Cakka juga melakukannya tadi.” batinku.
“Aku pingsan? Mommy, terima kasih telah membawaku kemari, aku tidak sadar telah bermain dengan hujan.” ucapku. Mommy mengangguk dan memberi isyarat kepada sepupu dan saudara kembarku untuk meninggalkanku. “Aku tahu Mommy merasakannya.” batinku kembali berkata.
“Cakka, terima kasih untuk beberapa menit yang berarti tadi, aku merindukanmu, selalu.”
Aku tersenyum pada hujan, aku tahu ia menyampaikannya kepada Cakka, menyampaikan rinduku.
“Aku sudah cukup bahagia.” tambahku.

***

Selasa, 07 Agustus 2012

Kamu

Bicara tentang andai, aku selalu terbayang akan sebuah imajinasi yang benar-benar seperti ilusi, kamu. 
Perubahan segala pikiranku, imajinasiku, anganku, semuanya, kamu perubahku. 
Mengapa kamu selalu mencampuri semuanya? segala hal tentang hidupku? Bukankah perintahmu untukku melupakanmu? Lalu mengapa? Bayangan jahatmu selalu menghantuiku? 
 

Senin, 06 Agustus 2012

lelah

aku lelah mencari. aku lelah mengerti. aku lelah menunggu. aku lelah memahami kekonyolanmu selama ini. bagaimana bila kamu pergi, dan jangan menghadapkan wajah kebencianmu kepadaku? bagaimana? apakah itu adil? cukup adil bagiku. tapi bagimu itu tak adil. ya, memang, semua yang aku inginkan seperti sebuah ketidakadilan untukmu. 
selama ini aku menunggu, kebahagiaan darimu, but you're not telling anywhere. 
lalu adakah artinya penantian dan kesetiaan selama ini? kemanakah artinya? 

Diam

Pagi ini aku diam membisu. Memikirkan apa yang sedang kamu lakukan bersamanya, disana? Mengimajinasikan bagaimana jika aku yang ada disampingmu sekarang, bukan dia. Mulai membentuk semua itu dalam rangkain kata. 
Begitu juga dengan siang ini, aku kembali terpaku, memejamkan mataku, ini bukan bahagia, ini semua aku lakukan karena aku menahan isakanku. Kini aku melepaskan pejaman mata itu, membiarkan sedikit bulir mataku turun. Membiarkannya meraih apa yang ia inginkan. Membiarkannya menunjukkan apa yang sedang ia rasakan. Dan kembali, menggerakkan jemariku dan membentuknya dalam rangkain kata. Entah sampai kapan itu berjalan, yang aku tahu, itu sudah ku lakukan setiap pagi, siang, sore, dan puncaknya adalah malam hari, ku pikir itu rutinitas tanpa batas, nyatanya ini hanya kegilaanku semata semenjak kamu menghilang dariku. 
Aku lelah. Aku lemah melakukan ini semua. Aku ingin ini berakhir.  Kembali seperti semula, saat aku tidak mengenalmu, ketika aku berada di sisi batinku sendiri, bukan berada di sisimu.

Finally



Cukup sudah semua tentangmu, tapi maaf, lelahku ini bukan berarti sihir yang dapat mengubahku dengan cepat untuk melupakanmu. Biasakanlah hidup dengan usikan kecil dari beberapa orang yang telah kamu sakiti dan menunggumu, termasuk aku.

Tango


Kamu percaya? Aku memiliki sebuah instrumen yang membuatku merasa seperti orang gila. Kadang semua ini terlihat tidak memiliki hubungan satu sama lain. Entahlah, tidak untuk aku. Aku merasa ini memang gila. Well, instrumen itu selalu mengalun ketika aku melihatmu mulai dari wajah, rambut hingga suatu titik disaat mataku menitihkan air mata. Lucu sekali. Ha-ha. Sangat lucu, hingga air mata ini menitih.
Saat ini aku terpaku menatap sebuah lembaran kusut denga tinta merah di depan lemariku. Kamu percaya? Aku terbentur pada satu titik yaitu kamu. Terlihat sekali aku sedang menahan senyum. Bagaimana tidak aku menahannya? Aku sedang berusaha melupakan semua tentangmu, bukan mengingatmu kembali. 
Well, ini salahku lagi. Aku belum membuang semua tentangmu. Ya, benar. Sepertinya melupakanmu butuh sebuah instrumen baru. 
Lalu, apa yang harus aku perbuat? Cukup sudah dengan semua hal yang tertera dengan melupakan, karena aku sudah mengaku kalah dengan memori, ia tidak nyata tetapi begitu kuat. Sulit untuk ditaklukan dan sulit dimusnahkan. Mungkin, Tuhan bisa. 
Tuhan, jika aku sudah memproklamirkan keputusanku untuk melupakan, adakah suatu hari dia kembali kepadaku? Kembali menyanjungku dengan kata-kata manisnya? Jawablah pertanyaan penuh keraguan ini. 
Tertera, Tango. 

Jumat, 03 Agustus 2012

Untitled





Beberapa hal, terkadang berbeda pandangan. 
Satu hal dengan hal lainnya, satu cerita dengan cerita lainnya. 
Tapi dengan mereka, satu hal dan satu cerita itu menjadi sebuah impian.