Hujan Dalam Rindu
Aku duduk termangu di dekat jendela kamarku, menatap rintik hujan
yang mulai membasahi benda tembus pandang itu. Kembali aku terenyah pada suatu hal yang selalu
membuatku bergeming dalam suatu kerinduan. Aku mengingatnya dalam setiap
balutan hujan di permukaan ini. Entah sudah keberapa kalinya aku mengingat dia
di dalam balutan hujan.
“Andai ragamu masih berada disini, bersamaku, belajar untuk tidak menghukum
hujan.” ucapku lirih.
**
“Sejak kapan aku berada
disini? Tempat apa ini, Tuan?.” ucapku pada Pak tua yang tidak asing untukku. Ia
terdiam sejenak.
Pak tua itu mengayunkan tongkatnya dan menatapku tajam. “Tempat
dimana sesuatu akan terjadi kembali.” katanya.
“Apa maksudmu?.”
Pak tua itu menarik lengan kausku dan kami berljalan menyusuri
sebuah sungai yang sangat asing bagiku. Pak tua itu hanya sesekali melirikku
tajam dan memberikanku sedikit senyuman. Entah apa arti lirikan tajamnya.
“Kau suka hujan, nak?.” ucapnya. Aku mengangguk.
“Apa kau selalu menghukum hujan?.” tanyanya sekali lagi. Aku
menaikkan alis mataku dan menggeleng.
“Pergilah kesana, itulah kebahagiaanmu.” ucapnya.
Aku meliriknya. “Pak, maaf, aku tidak begitu memahami beberapa
kalimat yang bapak ucapkan.” ucapku.
“Aku tidak begitu paham
dengan apa yang terjadi sebenarnya, aku hanya mendapat sebuah rintihan gadis
pada hujan” ucapnya. “Pergilah”, ia mendorongku.
Aku tidak mengiyakan ucapannya, tapi aku merasa kakiku seperti
melangkah tanpa perintah. Ada apa sebenarnya dengan semua ini, batinku
berkata.“Berjalanlah bodoh, jangan bergerak tanpa perintah!”.
Aku berusaha menjalankan beberapa syaraf pada otakku, berhasil. Aku
berjalan dengan perintah saat ini. Sesegera mungkin aku ingin mengucapkan
terima kasih pada Pak tua itu, ia sudah hilang tidak berada di tempat itu.
Batinku kembali berkata, “Siapapun dia, terima kasih”.
“Geansha?.” panggilnya. Tentu
aku merasa terpanggil, karena namaku memang Geansha.
“Ya?.” Aku berbalik badan, dan belum sempat menatapnya.
“Apa kabar?.” tanyanya. Mataku terbelalak begitu saja, Oh Tuhan,
Cakka, ya, dia Cakka, lelaki yang selama ini aku rindukan raganya, tanpa
kusadari bulir air mataku turun perlahan.
“Kka? Itu kamu?” ucapku lirih. Ia mendekat dan menghapus bekas
bulir air mataku. Aku hanya diam, membiarkannya melakukan hal itu. Aku lemah
karena sentuhannya, aku lemah, aku benar-benar terhasut oleh rindu. Munafik! Ya
aku munafik, membohongi rinduku sendiri.
“Gea, aku merindukanmu.” ucapnya. Aku merasakan genggamannya,
genggaman yang semakin lama semakin kuat.
“Aku, aku tidak percaya, kamu sudah tiada.”, ucapku. bulir air
mataku semakin deras, seperti hujan yang menghantui rinduku.
Ia memelukku dengan sentuhan abadi “Salahkah aku jika aku ingin
kembali? Sudahlah, ini hanya sesaat, setelah itu aku tidak akan mengusikmu” ucapnya.
“Izinkan aku bertahan dengan keadaan seperti ini, lima menit saja” tambahnya. Aku
terdiam dan meletakkan tanganku di pundaknya.
“Aku benar-benar merindukanmu” ucapku. “Hujan itu, saat detik-detik
kamu pergi, dia teman yang setia, aku mengingatmu dalam bulir hujan itu, dalam
kerinduan yang tidak terkalahkan, aku mencintaimu” ucapku. Aku tersenyum
melepaskan pelukannya. “Pergilah, itu ketenanganmu, disana, kita berbeda Cakka,
but I love you more than thousand years, aku mengenangmu sepanjang keabadianku”
tambahku. Ku lihat ia menatapku seolah aku seorang bidadari. Ia berlalu, pergi meninggalkanku dengan satu kecupan di keningku.
“Tuhan, itu indah, pertemuan ini singkat tapi rinduku mengombak,
terima kasih Tuhan” ucapku. Senyumanku melebar. Aku tidak menghapus bekas bulir
air mataku, aku membiarkannya, aku akan menunjukkannya pada hujan, aku telah
bertemu dengannya.
**
“Gea… Sadar Gea!!” teriak seseorang di telingaku. Mataku membuka
dengan perlahan. Ku lihat beberapa orang mengerumuniku, Dea, saudara kembarku,
Theofanny, sepupuku, dan Mommy. Aku melihat mereka.
“Syukurlah, kamu sadar, hujan itu terlalu kejam untuk membuatmu
tidak sadarkan diri.” ucap Mommy. Ia mengecup keningku. “Cakka juga melakukannya
tadi.” batinku.
“Aku pingsan? Mommy, terima kasih telah membawaku kemari, aku tidak
sadar telah bermain dengan hujan.” ucapku. Mommy mengangguk dan memberi isyarat
kepada sepupu dan saudara kembarku untuk meninggalkanku. “Aku tahu Mommy
merasakannya.” batinku kembali berkata.
“Cakka, terima kasih untuk beberapa menit yang berarti tadi, aku
merindukanmu, selalu.”
Aku tersenyum pada hujan, aku tahu ia menyampaikannya kepada Cakka,
menyampaikan rinduku.
“Aku sudah cukup bahagia.” tambahku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar