Senin, 06 Agustus 2012

Tango


Kamu percaya? Aku memiliki sebuah instrumen yang membuatku merasa seperti orang gila. Kadang semua ini terlihat tidak memiliki hubungan satu sama lain. Entahlah, tidak untuk aku. Aku merasa ini memang gila. Well, instrumen itu selalu mengalun ketika aku melihatmu mulai dari wajah, rambut hingga suatu titik disaat mataku menitihkan air mata. Lucu sekali. Ha-ha. Sangat lucu, hingga air mata ini menitih.
Saat ini aku terpaku menatap sebuah lembaran kusut denga tinta merah di depan lemariku. Kamu percaya? Aku terbentur pada satu titik yaitu kamu. Terlihat sekali aku sedang menahan senyum. Bagaimana tidak aku menahannya? Aku sedang berusaha melupakan semua tentangmu, bukan mengingatmu kembali. 
Well, ini salahku lagi. Aku belum membuang semua tentangmu. Ya, benar. Sepertinya melupakanmu butuh sebuah instrumen baru. 
Lalu, apa yang harus aku perbuat? Cukup sudah dengan semua hal yang tertera dengan melupakan, karena aku sudah mengaku kalah dengan memori, ia tidak nyata tetapi begitu kuat. Sulit untuk ditaklukan dan sulit dimusnahkan. Mungkin, Tuhan bisa. 
Tuhan, jika aku sudah memproklamirkan keputusanku untuk melupakan, adakah suatu hari dia kembali kepadaku? Kembali menyanjungku dengan kata-kata manisnya? Jawablah pertanyaan penuh keraguan ini. 
Tertera, Tango. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar