Malam ini sebenarnya bukan termasuk malam sendu, bukan juga
malam pilu. Tapi malam ini sepertinya beberapa pikiranku terpaku padamu, lagi. Sebenarnya
bukan beberapa, tapi semua.
Malam ini tidak hujan, tidak juga berangin, tapi pikiran,
hati, dan mataku merasakan hujan dan berangin. Iya. Seperti itu. Mengerti? Oh,
ku perjelas, menangis.
Karena pikiranku sudah basah, mungkin sekarang aku harus
memerasnya habis-habisan agar cepat kering.
Iya dengan merangkai kata, untukmu, lagi.
Emangnya ada selain kamu?
***
Kembali pada skenario itu ya, skenario Tuhan maksudnya. Dengan
tulisan ‘tentangmu’ itu sepertinya mengawali rasa ini.
Setelah dua tahun berlalu, atau mungkin sekarang adalah dua
tahun lebih 10 bulan, almost three years, aku menunggumu. Dan mungkin tiada
puncak untukku menunggumu, yang artinya, tidak akan pernah ada kata berhenti. Karena
dua garis sejajar itu tidak akan pernah bertemu di satu titik dan dapat
diperpanjang sebagaimana hingga. Proyeksikan itu kepadaku. Maaf, math effect.
Playlistku sekarang, Like We Used To. Sebenarnya bukan hal
penting, tapi ini berawal dari lagu ini.
Selamat malam, ini aku yang selalu menunggumu.
Dulu, waktu aku dan
kamu disebut kita.
Semua yang kita lakukan adalah indah. Entah itu salah atau
benar, tapi itu selalu saja indah. Salah. Dan benar-benar salah.
Semua hal yang rasional dilakukan bersama. Rasional untuk
anak usia 12 tahun.
Sedih, bersama. Senang, bersama. Nangis? Aku sendiri sih.
Dulu, aku sangat menginginkan ucapan ucapan mesramu. Sekarang?
Aku masih menginginkannya.
Kalo kataku, aku selalu menginginkanmu.
Dulu, kita adalah cinta. Cinta yang pernah tumbuh. Lalu menghilang.
Sekarang. Setelah tiga
puluh empat bulan apa yang disebut kita, sudah ngga ada.
Aku masih terpaku sama
kamu.
Kamu? Sudah pergi
dengan yang lainnya.
Sebenarnya, aku tidak memaksakan cinta, tidak memaksakan aku
harus memiliki.
Hanya saja, menghilangkan rasa ini seperti harus hidup
selama-lamanya. Impossible.
Dan sekarang, hari ini, jam ini, detik ini.
Aku melayang, seperti burung yang bisa terbang ke masa lalu.
Memperhatikan ‘kita’ yang sedang bertatapan satu sama lain. Yang
tak terasa, bulir ini turun dan meluruh sesuka hatinya.
Bertatapan satu sama lain. Everyday we do. If we meet. So hell
yeah.
Sekarang aku harus
menatapmu bertatapan dengan orang lain yang bukan aku.
Dan sepertinya.
Aku merindumu.
Merindu semua
tatapanmu.
Dan semua tentangmu.
Jadi, ini toh kangen?
Sebegitu menariknya, dan menyakitkan ya ternyata.
Apalagi, yang aku kangenin adalah. Kamu.
Yang jelas-jelas sudah berkangen-kangenan dengan yang lain,
yang bukan aku.
Kangen sama orang yang
sudah jadi milik orang lain.
Lucu, tapi tetep aja
ngenes.
Apa aku masih ga rela sih?
Apa aku masih belum bisa lepas dari kamu?
Apa aku juga belum bisa berhenti menatapmu?
Puncak kangenku, adalah hari ini.
Hari dimana semuanya datang lagi tanpa aku menyuruhnya.
Sebenarnya aku berharap ini adalah city of dream, but im not
sleeping now.
Lagi-lagi, ini tentang kamu.
Tentang perasaan rinduku untukmu.
Bukan pertama aku merasa rindu. Tapi ini yang terhebat.
Aku akan merindumu, walau tiada balasannya. Dan tidak akan
pernah aku menyebutnya rindu yang tak terbalas. Karena masa bodoh dengan
balasan itu.
Kangenku, sekarang ke kamu.
Kamu, kangennya sama dia.
Dan aku tetep kangen kamu.
Terus? Apa kamu gabisa kangen aku?
Eh lupa, buat apa kamu kangen aku.
Iya, sudah ada the gold woman kan sama kamu.
Oiya semoga the gold womannya ga senasib lah.
Biar, dia ga ribet ngelupain kamu. Kayak aku.
Jadi? Apa tanggung jawabmu sama rasa kangenku?
Apa kamu bisa ngilangin rasa kangenku hari ini?
Atau minimal, kamu bisa bikin aku, ngga sia-sia ngangenin
kamu.
Percuma kan?
Aku ngomong sama kertas lagipula.
Jadi kamu juga ga akan tau dan ga akan mau tau.
Tapi tenang aja,
Kangenku masih buat kamu.
Selamanya
Kangenku buat kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar