Selamat malam beberapa orang di luar sana, yang sempat
membaca dan sempat ingin membaca ini. Dan semua orang yang sudah muak dengan
semua ceritaku. Ya, ya ya, aku naif sekali, aku memang menginginkan kalian
membacanya, ya semua penulis amatir memang selalu ingin tulisannya dibaca,
bukan?.
Selamat malam juga untuk kamu disana, yang mungkin, baru saja
hanya membaca pesanku, ciye, kamu kira aku tukang koran?.
Selamat malam kalian semua, selamat malam kamu, selamat malam
hatiku yang telah mati.
‘Kamu’ yang aku maksud, sudah bukan ‘Kamu’ yang
dulu-sempat-aku-deskripsikan, kamu yang sekarang adalah, seorang yang
benar-benar mengisi ruang ini setelah tiga-tahun-sudah aku menanti sosok
seperti ini.
Iya, kamu yang baru
saja hanya membaca pesanku. Istilahnya. Ciye cuma di read.
**
Genap sebulan sudah aku menahan sebuah perasaan aneh yang
tiba-tiba menyerang ini. Padahal aku tahu, sejak beberapa bulan yang lalu, kita
memang sudah dekat, dan dekat sekali menurutku.
Tapi, dekat yang aku maksud adalah, ya kita memang dekat
karena kita bertemu setiap hari, dan ada kemungkinan bahwa kamu dan aku bertukar pesan, ok, u can call me dramaqueen
now.
Kita, eh salah, aku dan kamu memang sudah sering bertukar isi
pikiran, dan ya, hampir setiap hari, tapi ya nggak sesering tiap hari juga. Dan
berhari-hari itu juga aku sudah memberimu banyak sekali kode-kode yang tidak
mudah dipecahkan.
Tapi kamu juga tetep aja kayak gini, biasa dan ya, meniadakan
aku. Maksudku, kamu membuatku merasa ‘invisible’, tidak terlihat, tidak tampak,
ya itu punya arti sama dengan meniadakan aku...
Saat beratus-ratus kode aku ucapkan, tetap saja, kita tidak
bercengkrama layaknya seorang yang sedang memiliki sebuah hubungan atas dasar
kode.
Kita, hm, kita cuma temen. Cuma temen. One more. Kamu dan aku
cuma, temen.
Aku mendengar beberapa cerita sebelum ini. Ini adalah salah
satu cerita terbaik tentang ‘friendzone’, dari seseorang yang sudah
mengalaminya baru-baru ini tapi benar adanya, intinya, cerita ini adalah fakta,
dan cerita ini berupa sebuah curhat yang sangat panjang. Bahkan akan
menyebabkan kebosanan. Let’s read.
Baru-baru ini, aku
merasakan sebuah hal terjadi padaku, yang aku sendiri tidak dapat
mengartikannya.
Aku, yang dulu,
benar-benar dont care about what people said, tiba-tiba berubah menjadi seorang
yang ‘perasa’ dan ‘mudah tersinggung’. Aku sendiri, tidak mengetahui penyebab
hal itu.
Baru-baru ini juga aku
merasakan, aku orang paling invisible di dunia. Oke, itu berlebihan.
Aku juga merasakan ada
setetes air mata turun ketika beberapa orang yang aku sayangi mulai
menyakitiku. Oke, ini juga berlebihan.
Dan aku mulai menjadi
seorang yang.....selalu merasakan keberadaanmu.
Menjadi orang peka,
tidak seenak yang semua wanita harapkan pada lelakinya.
Menjadi orang peka
memiliki resiko besar.
“halo”, tiba-tiba
ponselku bergetar, terdapat sebuah pesan masuk.
Aku tersenyum pasi,
“pasti bakalan cerita tentang gebetanmu, kan?” balasku.
“Iya, aku lagi galau”,
lalu pesan-pesan itu berlangsung sampai keesokan paginya. Dan itu berlangsung
beberapa kali, sampai sudah berulang-ulang kali aku menghapus pesan panjangnya
itu.
Dan pada suatu titik.
Yaampun. Aku baru
sadar, mengapa saat dia menceritakan tentang apa yang dia sebut sebagai gebetan
itu membuat beberapa unsur dariku seperti lepas begitu saja. Rasanya seperti,
kalian menancap gas kencang kemudian melepaskannya dengan begitu saja. Kaget,
dan ya, sedikit sakit. Tapi aku nggak tahu apa yang aku sadari ini.
Aneh.
Aku sudah mulai lupa,
lupa cara jatuh cinta, lupa cara sakit hati. Dan lupa gimana cara suka sama
orang, dan suka yang benar-benar suka maksudnya.
Aku lupa.
Setelah pesan-pesan
itu, aku jadi mikir, kamu tegar juga ya, hehe, kamu keren bisa nahan semua
perasaanmu, nggak kayak kebanyakan cowok.
Dan di kemudian hari,
kita jauh lebih deket, banyak hal yang bikin kita makin deket, dan aku ngerasa,
aku nyaman...
Aku nyaman di deketmu,
aku nyaman dengerin ceritamu tentang ‘dia’, aku nyaman jadi kaki bantu buat
kamu, biar kamu tetep bisa berdiri waktu, ‘dia’ nyakitin kamu.
Aku ikhlas ngelakuinnya,
dan aku nyaman. Dan aku anggep kamu lebih baik dari seorang teman..........
Tapi kamu tetep kayak
gini.
Biasa
aja, dan kamu anggep aku cuma, temen.
Aku juga sadar. Aku ga
boleh terlalu berharap.
Dan banyak orang bilang
‘dont expect too much’
Sekarang aku sadar
dengan apa yang aku rasakan.
Saat aku dalam proses
mencari, proses move on, kamu dateng, dan kamu tiba-tiba nyelundup masuk gitu
aja ke hatiku dengan semua ceritamu.....
Karena aku tipe yang
gampang luluh, aku respect-nya lebih ke kamu...
Dan, makin kesini,
perhatianku, respectku, careku ke kamu kok makin besar, dan
makin aneh rasanya.
Aku mulai sadar, kamu
ada waktu aku lagi butuh orang lain untuk move on.....
Tapi aku juga sadar,
kamu nggak akan pernah bisa jadi orang yang bakal jadi pelabuhan baruku, atau
tempat move onku.
Aku sadar,
Aku sadar sebelum aku
berharap lebih ke kamu...
Kamu ada saat aku
merasa hilang.
Kamu ada saat aku
perlu.
Kamu ada saat aku
sedih.
Kamu ada.
Dan selalu ada.
Tapi ada dia, kamu
sayang banget kan sama dia...
Dan kamu nggak pernah
anggep aku lebih.
Aku tahu. Aku mulai
jatuh cinta sama kamu.
Aku memilih untuk
mendengarkan semua ceritamu tentang dia, seorang gadis yang aku nggak pernah
tahu dan nggak pengen tahu.
Aku berkali-kali
bilang, she is not treat you right.
Dia nggak memperlakukan kamu dengan baik, bukan berarti aku merasa I treat you right.
Dan kamu juga sadar,
kalo dia nggak baik buat kamu. Tapi kamu tetep kokoh sama keputusanmu, buat
nunggu dia. Ya, aku bisa apa?
Mungkin, ini
friend-zone, atau parahnya, curhat-zone.
Aku
bisa apa, saat kamu, memilih dia, yang jelas-jelas bukan aku?
Kalo aku berani bilang,
aku nggak rela, aku pasti bilang.
Tapi, rasanya kok susah
banget.
Sebenernya, aku yang
mempersulit keadaan ini, karena, ya, aku masih trauma dengan beberapa kisah
itu. Bahkan, sekarang, jelas-jelas aku tahu, kamu beda, aku masih aja trauma
sama hal-hal ga penting itu.
Dan beberapa hari ini,
banyak sekali orang yang seperti menunjukkan apa yang aku rasa.
Ya, aku bisa apa?
Mengelak? Nyatanya, ya enggak. Mereka benar. Dan semua yang mereka tunjukkan
itu benar adanya.
Tapi, aku tetap aku.
Beribu-ribu pilihan menyakitkan ada untukku. Dan semenjak beberapa pertunjukkan
perasaan itu, ada dua pilihan di hidupku, sekarang.
Pertama, aku harus
menghilangkan atau menahan perasaanku, dan bergerak seolah semua tidak pernah
terjadi, dan kamu akan tetap baik-baik saja, dan tetap menceritakan semuanya
kepadaku. Dan aku-dan-kamu tidak akan pernah jadi kita. Ini berarti, aku akan
menahan perasaanku, sakitnya ketika kamu bercerita panjang lebar tentang dia,
sakitnya ketika aku hanya dianggap teman, yang pada nyatanya, kamu segalanya
buat aku.
Kedua, aku tetap
bertahan dengan perasaanku, tanpa ada kamu. Kalian paham? Maksudku, aku tetap
bersikeras untuk mencintai dia, dan dia pergi begitu saja. Lalu, siapa yang aku
cintai?. Dan, hilang sudah kedekatan diantara kita. Ini berarti, aku akan
menjadi budak perindu, yang akan selalu mengikuti rinduku untuk kamu.
Sekarang, aku harus
benar-benar memilih, seperti apa perasaan yang aku mau, dan bagaimana aku harus
menyikapinya. Karena semua pilihan itu memiliki resiko besar sekali. Sangat
besar hingga aku malas untuk menjelaskannya.
Pada akhirnya, menurutku,
pilihan pertama lebih indah. Karena, kita masih deket kan? Jadi resiko untuk
‘ditinggal’ saat perasaan kita di ujung itu nggak ada. Tapi resiko buat nahan
perasaan juga bakalan ada. Kalo sekarang aku bilang, apapun resikonya, jauh
lebih baik aku masih deket sama kamu daripada harus ditinggal waktu perasaanku
lagi di ujung.
Minimal, ada kata
‘lebih baik’ disitu.
Ya diakhir kisah, aku
cuma bisa bilang.
Jangan
lagi deh.
**
Well, cerita itu nggak buruk-buruk juga. Aku suka, dan aku
menyelami cerita itu. Ya, as long as you
life, sometimes, there was a hurt between a happiness.
Selalu, karena tersakiti sama kesenangan, itu sudah sepaket.
Sepaket yang nyakitin
ya.
Sama kayak aku sama
kamu.
Kalo jalan terus ya
lama-lama nyakitin.
Kamu seneng.
Aku sakitnya.
Emang, nggak adil buat aku. Tapi buat dia, fine-fine aja.
Yah, namanya juga hidup.
Tentang friendzone tadi,
Sebenarnya, itu bukan cerita orang, karena itu ceritaku. Iya,
baru aja kejadian.
Dan sekarang, aku harus sok-tegar lagi di depan semua orang,
dan menganggap, everything fine. Padahal ada pain dibalik fine.
Sebenernya, aku bahagia-bahagia aja waktu kamu nyeritain
tentang dia, sungguh, sangat bahagia, karena tandanya, kamu sudah percaya sama
aku, jadi kamu cerita tentang dia.
Cuma sakit aja gitu.
Tapi buat apa aku ngomong sakit ke kamu, ketika kamu aja
sakit waktu nyeritain tentang dia?
Aku rela sakit hati, karena itu juga termasuk latihan sakit
hati, ea. Latihan.....
Well, as you know,
kadang hidup maksa kita buat show off your heart, show off how you feel, but
sometimes, kita juga harus bisa nerima saat apa yang kita tunjukkan ga ditoleh
sedikitpun sama orang itu.
Hahaha. Aku lucu banget. Yang disakitin justru masih bisa
bilang kayak gitu?. Gak, aku emang naif. Bahkan munafik? Ah enggak.
Dan diujung cerita tadi, itu semua tentang pilihan, tepatnya
pilihanku. Dua pilihan yang berat, semuanya memiliki lebih kurangnya
masing-masing. Dan ketika aku mengucapkan pilihanku jatuh pada pilihan pertama.
Aku akan berusaha untuk melakukannya. Sakit? Apa sih di dunia ini yang gak nyakitin?
Pilihan, ya ya ya. Banyak orang yang bilang, hidup tentang
pilihan, berarti kalo nggak milih, berarti ga hidup?, oke, aku sudah memilih.
Sekarang tinggal gimana aku nyikapin pilihanku. Nyiapin
kesiapan buat lebih sakit hati pastinya. Ah, aku sudah terlatih sama hal-hal
yang nyakitin.
Dan walaupun diujung tadi, kisahku belum selesai, dan aku
nggak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, doaku tetep baik kok buat kamu.
Tapi, nggak bisa dipungkiri,
Cinta emang kampret.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar