Kamis, 15 Mei 2014

Bunga Tidur

Di depan cermin, Sabtu pagi. Aku terpaku melihat bayanganku sendiri. Mata sembab itu masih sama, warna dan ukurannya pun masih sama. Apa samanya orang yang membuat sembabnya mata ini, mempengaruhi?
Baru kemarin aku menikmati beberapa cerita di Wattpad. Yang paling aku ingat, cerita itu sama persis dengan apa yang aku alami. Bukan maksud untuk melankolis, tapi jujur saja aku bisa merasakan kepedihan tokoh utama disana dan berkata pada diriku ‘jadi dulu aku kayak gini’.
Semua kisah sama aja ya.
Stranger-kenal-deket-makin deket-pacaran-mesra-tengkar-renggang-putus-stranger.

Tapi sebenarnya, tulisanku kali ini, aku sedang mengapresiasikan mimpiku semalam.
Bukan menjelaskan apa yang terjadi di dalam cerita itu.

**
Orang bilang, wanita yang suka minum Black Coffe tanpa gula adalah orang gila.
Sedangkan beberapa pagi di minggu ini, aku sangat mencintai Black Coffe, tanpa gula. Dan itulah sebab aku terjaga malam tadi.
Menurut buku psikologi yang aku baca, orang yang patah hati cenderung tidak menyukai minuman/makanan yang manis.
Sepertinya, itu benar untukku.
Dua tahun ini, aku membenci hal yang terlalu manis. Selain untuk program dietku-_-
Aku selalu protes jika ibu membuatkan teh pagiku terlalu manis dan kental. Begitu juga dengan kopi-kopi yang biasanya ibu buatkan.
Aku pecinta kopi. Apalagi, Black Coffe.

Sore hari, keadaan memang sendu, langit gelap dengan terpaan warna orange yang indah. Di jendela kamar yang cukup luas, aku duduk. Menanti terpaan orange itu pergi. Aroma kopi yang sangat kental membuatku sedikit mual. Tapi entah, aku tetap menyukainya.
Menyesap kopi itu memiliki arti.
Sesapan pertama, akan terasa pahit dan batinmu akan berbicara untuk tidak meminumnya lagi.
Tapi ketika kamu mempertahankan rasamu, pada sesapan kedua, akan sedikit berubah rasanya, menjadi sedikit sejuk di tenggorokan.
Pada sesapan ketiga, kamu akan merasakan, semuanya hanya pada kopi itu.
Pada puncaknya, sesapan keempat, otak akan merasa segar, dan yang aku rasakan, aku seperti terlahir kembali.
Ketika kamu berhenti menyesapnya, tenggorokanmu akan terasa lapar dan ingin merasakannya lagi.
Selesai dengan kopi.

Aku menyesap sisa kopiku, dan menghirup nafas dalam-dalam.
Sekarang, terpaan warna orange di langit itu belum pergi, justru lebih menampakkan warnanya.

Orange. Warna perpaduan merah dan kuning. Kuat dan lemah. Seperti kamu dan aku. Yang dulu disebut Kita.
Aku masih sama bukan? Apapun yang terjadi, selalu saja bisa menghubungkan itu dengan, apa yang disebut ‘kita’ dulu.

**

Tentang mimpiku semalam.
Tentang sosok yang selama ini sangat sering datang di dalam mimpi.
Tentang kamu, yang sampai saat ini masih saja berlari di pikiranku.

“Kamu apa kabar?” tanyanya. Tampak indah dari sini dua orang sedang bertatapan satu sama lain. Lelaki itu tidak tampan, hanya saja, ia memiliki beberapa kharisma indah, dan yang wanita, hanya biasa saja dengan rambut terurainya.
“Baik kok, tapi sebelum kamu pergi, sekarang sih, beda.”, jawabku santai.
“Dua tahun lalu?, Ya Tuhan, itu sudah berlangsung sangat lama.”, ia jauh lebih santai dari ucapanku tadi. Lalu ia tertawa, kali ini aku yang berucap ‘Ya Tuhan’, tawamu masih seindah dulu, serenyah dulu, dan kamu semakin indah.
Tapi, seperti mendapat hantaman keras. Ia menertawakan apa yang seharusnya tidak ditertawakan. Keadaanku saja membuatmu tertawa, bagaimana dengan perasaanku?.
“Waktu itu kan aku sudah bilang selamat tinggal.”, tambahnya. Aku diam saja.
Mendengarnya mengucapkan selamat tinggal, uh menyakitkan saja, jauh lebih menyakitkan. Ia memperjelas selamat tinggalnya, sampai pendengaranku enggan untuk mendengarnya lebih jauh.
Aku mengangguk saja. Dan suasana menjadi hening.
Terkadang ada hati yang nggak selamat waktu diucapin selamat tinggal, hati itu, hatiku”, balasku, aku tersenyum kepadanya.
Ia menggenggam tanganku, semuanya seperti seolah-olah berhenti, angin, udara, semuanya! Hanya ada aku dan kamu. Genggamanmu, masih sama, masih saja datar dan seperti heroin yang membuatku ketagihan.
“Izinin aku bahagia, dan dibahagiakan, lupain aku.” ucapnya.
Ucapnya yang terakhir.

Lalu samar-samar bayangannya pergi.

Jauh sekali, ingin aku mengejarnya tapi seberkas sinar membangunkanku.

Oh sudah pagi.

Jadi, dulu, waktu aku sama kamu, kita, aku nggak bisa buat kamu bahagia ya, dan dibahagiakan?

Kamu ingin aku melupakanmu?
Kamu pikir,
Aku sekuat itu?
Kamu pikir,
Aku sebisa itu?
Kamu pikir,
Semudah itu?
Kamu pikir,
Semua kenangan yang selama ini ada,
Semua harapan yang selama ini ku rangkai,
Semuanya, hati, jiwa, waktu, perasaan,
Lalu, semudah itu kamu bilang ‘lupain aku’.

Aku bodoh apa kamu nih?

Kamu gila.
Benar-benar gila.

Dan aku jauh lebih gila.

Dua tahun aku berharap aku dan kamu bisa jadi kita, bahkan bulan depan, genap sudah tiga tahun aku menunggu.
Waktu. Perasaan. Pikiran. Hati. Masa indahku. Kamu sudah hancurkan itu.
Semuanya.
Kalau kamu baca ini pasti kamu bakal bilang ‘siapa suruh kamu nunggu’, hahahahahahaha.
Well, emang nggak ada yang suruh aku nunggu kamu selama ini.

Sudah pernah denger, beda di mulut beda di hati?
Aku banget.

Aku nggak nunggu kamu. Tapi hati aku iya. Nurani aku iya.


Bunga tidur ya, katanya indah, katanya.
Aku terlalu berharap lebih dari ‘katanya’.

Kalau mimpiku tadi, itu jenis bunga apa?

Atau sudah pantas itu disebut, Mimpi buruk?
Tapi kamu nggak pernah buruk di mataku. Yang sudah buta dengan keindahanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar