Di depan cermin, Sabtu
pagi. Aku terpaku
melihat bayanganku sendiri. Mata sembab itu masih sama, warna dan ukurannya pun
masih sama. Apa samanya orang yang membuat sembabnya mata ini, mempengaruhi?
Baru kemarin aku menikmati beberapa cerita di Wattpad. Yang
paling aku ingat, cerita itu sama persis dengan apa yang aku alami. Bukan
maksud untuk melankolis, tapi jujur saja aku bisa merasakan kepedihan tokoh
utama disana dan berkata pada diriku ‘jadi
dulu aku kayak gini’.
Semua kisah sama aja ya.
Stranger-kenal-deket-makin
deket-pacaran-mesra-tengkar-renggang-putus-stranger.
Tapi sebenarnya, tulisanku kali ini, aku sedang
mengapresiasikan mimpiku semalam.
Bukan menjelaskan apa yang terjadi di dalam cerita itu.
**
Orang bilang, wanita yang suka minum Black Coffe tanpa gula
adalah orang gila.
Sedangkan beberapa pagi di minggu ini, aku sangat mencintai
Black Coffe, tanpa gula. Dan itulah sebab aku terjaga malam tadi.
Menurut buku psikologi yang aku baca, orang yang patah hati
cenderung tidak menyukai minuman/makanan yang manis.
Sepertinya, itu benar untukku.
Dua tahun ini, aku membenci hal yang terlalu manis. Selain
untuk program dietku-_-
Aku selalu protes jika ibu membuatkan teh pagiku terlalu
manis dan kental. Begitu juga dengan kopi-kopi yang biasanya ibu buatkan.
Aku pecinta kopi. Apalagi, Black Coffe.
Sore hari, keadaan memang sendu, langit gelap dengan terpaan
warna orange yang indah. Di jendela kamar yang cukup luas, aku duduk. Menanti
terpaan orange itu pergi. Aroma kopi yang sangat kental membuatku sedikit mual.
Tapi entah, aku tetap menyukainya.
Menyesap kopi itu memiliki arti.
Sesapan pertama, akan terasa pahit dan batinmu akan berbicara
untuk tidak meminumnya lagi.
Tapi ketika kamu mempertahankan rasamu, pada sesapan kedua,
akan sedikit berubah rasanya, menjadi sedikit sejuk di tenggorokan.
Pada sesapan ketiga, kamu akan merasakan, semuanya hanya pada
kopi itu.
Pada puncaknya, sesapan keempat, otak akan merasa segar, dan
yang aku rasakan, aku seperti terlahir kembali.
Ketika kamu berhenti menyesapnya, tenggorokanmu akan terasa
lapar dan ingin merasakannya lagi.
Selesai dengan kopi.
Aku menyesap sisa kopiku, dan menghirup nafas dalam-dalam.
Sekarang, terpaan warna orange di langit itu belum pergi,
justru lebih menampakkan warnanya.
Orange. Warna perpaduan merah dan kuning.
Kuat dan lemah. Seperti kamu dan aku. Yang dulu disebut Kita.
Aku masih sama bukan? Apapun yang terjadi, selalu saja bisa
menghubungkan itu dengan, apa yang disebut ‘kita’ dulu.
**
Tentang mimpiku
semalam.
Tentang sosok yang
selama ini sangat sering datang di dalam mimpi.
Tentang kamu, yang
sampai saat ini masih saja berlari di pikiranku.
“Kamu apa kabar?” tanyanya. Tampak indah dari sini dua orang
sedang bertatapan satu sama lain. Lelaki itu tidak tampan, hanya saja, ia
memiliki beberapa kharisma indah, dan yang wanita, hanya biasa saja dengan
rambut terurainya.
“Baik kok, tapi sebelum kamu pergi, sekarang sih, beda.”,
jawabku santai.
“Dua tahun lalu?, Ya Tuhan, itu sudah berlangsung sangat
lama.”, ia jauh lebih santai dari ucapanku tadi. Lalu ia tertawa, kali ini aku
yang berucap ‘Ya Tuhan’, tawamu masih seindah dulu, serenyah dulu, dan kamu
semakin indah.
Tapi, seperti mendapat hantaman keras. Ia menertawakan apa
yang seharusnya tidak ditertawakan. Keadaanku saja membuatmu tertawa, bagaimana
dengan perasaanku?.
“Waktu itu kan aku sudah bilang selamat tinggal.”, tambahnya.
Aku diam saja.
Mendengarnya mengucapkan selamat tinggal, uh menyakitkan
saja, jauh lebih menyakitkan. Ia memperjelas selamat tinggalnya, sampai
pendengaranku enggan untuk mendengarnya lebih jauh.
Aku mengangguk saja. Dan suasana menjadi hening.
“Terkadang ada hati
yang nggak selamat waktu diucapin selamat tinggal, hati itu, hatiku”,
balasku, aku tersenyum kepadanya.
Ia menggenggam tanganku, semuanya seperti seolah-olah
berhenti, angin, udara, semuanya! Hanya ada aku dan kamu. Genggamanmu, masih sama, masih saja datar dan seperti heroin yang
membuatku ketagihan.
“Izinin aku bahagia,
dan dibahagiakan, lupain aku.” ucapnya.
Ucapnya yang terakhir.
Lalu samar-samar bayangannya pergi.
Jauh sekali, ingin aku mengejarnya tapi seberkas sinar
membangunkanku.
Oh sudah pagi.
Jadi, dulu, waktu aku sama kamu, kita, aku nggak bisa buat
kamu bahagia ya, dan dibahagiakan?
Kamu ingin aku
melupakanmu?
Kamu pikir,
Aku sekuat itu?
Kamu pikir,
Aku sebisa itu?
Kamu pikir,
Semudah itu?
Kamu pikir,
Semua kenangan yang
selama ini ada,
Semua harapan yang
selama ini ku rangkai,
Semuanya, hati, jiwa,
waktu, perasaan,
Lalu, semudah itu kamu
bilang ‘lupain aku’.
Aku bodoh apa kamu nih?
Kamu gila.
Benar-benar gila.
Dan aku jauh lebih gila.
Dua tahun aku berharap aku dan kamu bisa jadi kita, bahkan
bulan depan, genap sudah tiga tahun aku menunggu.
Waktu. Perasaan. Pikiran. Hati. Masa indahku. Kamu sudah
hancurkan itu.
Semuanya.
Kalau kamu baca ini pasti kamu bakal bilang ‘siapa suruh kamu
nunggu’, hahahahahahaha.
Well, emang nggak ada yang suruh aku nunggu kamu selama ini.
Sudah pernah denger, beda di mulut beda di hati?
Aku banget.
Aku nggak nunggu kamu. Tapi hati aku iya. Nurani aku iya.
Bunga tidur ya, katanya indah, katanya.
Aku terlalu berharap lebih dari ‘katanya’.
Kalau mimpiku tadi, itu
jenis bunga apa?
Atau sudah pantas itu disebut, Mimpi buruk?
Tapi kamu nggak pernah buruk di mataku. Yang sudah
buta dengan keindahanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar